1. Manusia Super Update
Kapanpun dan di manapun selalu update status. Statusnya tidak terlalu panjang tapi terlihat bikin risih, karena hal-hal yang tidak terlalu penting juga dipublikasikan.
Contoh : "Lagi makan di restoran A..", "Dalam perjalanan menujuneraka..", "Saatnya baca koran..", dan sebagainya.
2. Manusia Melankolis
Biasanya selalu curhat di status. Entah karena ingin banyak diberi komentar dari teman-temannya atau hanya sekedar menuangkan unek-uneknya ke facebook. Biasanya orang tipe ini menceritakan kisahnya dan terkadang menanyakan solusi yang terbaik kepada yang lain.
Contoh : "Kamu sakitin aku..lebih baik aku cari yang lain..", "Cuma kamu yang terbaik buat aku..terima kasih kamu sudah sayang ama aku selama ini..".
3. Manusia Tukang Ngeluh
Pagi, siang, malem, semuanya selalu ada aja yang dikeluhkan.
Contoh : " Jakarta maceeet..!! Panas pula..", "Aaaargh ujan, padahal baru nyuci mobil..sialan. .!!", "Males ngapa2in.. cape hati gara2 si do' i..", dsb.
4. Manusia Sombong
Mungkin beberapa dari mereka ga berniat menyombongkan diri, tapi terkadang orang yang melihatnya, yang notabene tidak bisa seberuntung dia, merasa kalo statusnya itu kelewat sombong, dan malah bikin sebel.
Contoh : "Otw ke Paris ..!!", "BMW ku sayang, saatnya kamu mandi..aku mandiin ya sayang..", "Duh, murah-murah banget belanja di Singapur, bow,"
5. Manusia Puitis
Dari judulnya udah jelas. Status nya selalu diisi dengan kata-kata mutiara, tapi ga jelas apa maksudnya. Bikin kita terharu? Bikin kita sadar atas pesan tersembunyinya? atau cuma sekedar memancing komentar? Sampai saat ini, tipe orang seperti ini masih dipertanyakan.
Contoh : "Kita masing-masing adalah malaikat bersayap satu. Dan hanya bisa terbang bila saling berpelukan", "Mencintai dan dicintai adalah seperti merasakan sinar matahari dari kedua sisi", "Jika kau hidup sampai seratus tahun, aku ingin hidup seratus tahun kurang sehari, agar aku tidak pernah hidup tanpamu".
6. Manusia in English
Tipe manusianya bisa seperti apa saja, apakah melankolis, puitis, sombong dan sebagainya. Tapi dia berusaha lebih keren dengan mengatakannya dalam bahasa Inggwis gicyu Low..
Contoh : "Tie and Chair..", "I can tooth, you Pink sun.." dsb..
7. Manusia Lebay
Updatenya selalu bertema 'gaul' dengan menggunakan bahasa dewa.. ejaan yang dilebaykan..
Contoh.." met moulnin all.. pagiiieh yg cewrah... xixiixi" << lol~
8. Manusia Terobsesi
Mengharap tapi ga kesampaian.. pengen jd artis ga dapat-dapat.
Contoh : "duwh... sesi pemotretan lagi! cape..."
9. Manusia Sok Tau
Sotoy tenarnya. Padahal dia sendiri tidak tahu apa yang ditulisnya.
Contoh : "Pemerintah selalu memanjakan rakyatnya.. bla..bla...bla,"
10. Bioskop Mania
Update film yang abis ditonton dan kasih comment..
Contoh : "ICE AGE 3..Recomended! !", "Transformers 2 mantab euy.."
11. Manusia pedagang
Contoh: "jual sepatu bla bla bla"
12. Manusia penyuluh masyarakat
Contoh: "jangan lupa dateng ke TPS, 5 menit utk 5 tahun bla..bla"
13. Manusia Alay
Ada berbagai macam versi, dari tulisannya yang aneh, atau tulisannya biasa aja, hanya saja kosakata nya ga lazim seperti bahasa alien.
Contoh:Alay 1 : "DucH Gw4 5aYan9 b6t s4ma Lo..7aNgaN tin69aL!n akYu ya B3!bh..!!"
Alay 2 : "km mugh kog gag pernach ngabwarin aq lagee seech? kmuw maseeh saiangs sama aq gag seech sebenernywa? "
Alay 3 : "Ouh mY 9oD..!! kYknY4w c gW k3ReNz 48ee5h d3ch..!!"(Khusus buat tipe ini, ga usah di baca juga gpp..saya pribadi juga mikirdulu buat nulis ini, walaupun jadinya kurang mirip sama yg aslinya..)
14. Tipe Hidden Message
Tipe ini biasanya tidak to the point, tapi tentunya punya niat biar orang yg dituju membaca nya. (bagus kalo baca..kalo ngga? kelamaan nunggu) padahal kan bisa langsung aja sms ya..
Contoh : "For you my M***, I can' t live without you..you are my bla bla bla..","Heh, cewe bajingan..ngapain lo deket2in co gw?! kyk ga laku aja lo.." (padahal ce tersebut tidak ada dalam jaringannya. . mana bisa baca...:p)
15. Tipe Misterius
Tipe yang biasanya bikin banyak orang bertanya tanya atas apa maksud dari status orang tersebut..Biasanya dalam suatu kalimat membutuhkanSubjek + Predikat + Objek + Keterangan. Tapi orang tipe ini mungkinhanya mengambil beberapa atau malah hanya 1 saja..Dan pastinyamengundang kontroversi.
Contoh : "Sudahlah.." , "Telah berakhir.." (apanya??),"Termenung.. ." (so what gitu, loh)
Kalian ngikut yang mana???
----------------------------------
dikutip dari:
http://www.facebook.com/pages/Pusat-Humor-Indonesia-PHI-The-Official-Groups/243165220614
Categories
- Behind The Scene's (5)
- Humanitarian World's (4)
- Inspiring Articles (3)
- InterMezzo (6)
- Management Concepts (2)
- Marketing Tips (3)
- My Stories (1)
- Opinion (3)
- Personal Sharing (10)
- Poem's (2)
Friday, September 18, 2009
Saturday, June 06, 2009
PERTEMUANKU DENGANNYA
Sore itu Nirwan mendatangi café yang letaknya persis di seberang hotel tempat dia menginap selama berada di Bandung yang bercuaca sejuk dan dingin tidak seperti Jakarta yang selalu terasa panas dan semakin panas dari hari ke hari.
Dia kemudian duduk di meja yang posisinya berada di pojok café tersebut. Setelah itu lalu dia membaca sms terakhir di handphone blackberrynya, yang dikirim oleh Defina sekitar 5 menit yang lalu; "aku on the way menuju lokasi Wan, sesampainya di café itu pasti aku sms or call, tunggu ya"
Kemudian Nirwan memesan expresso shots dan beberapa pastry kegemarannya setiap saat dia mampir ke café itu di manapun dia singgah, hari yang melelahkan sebetulnya setelah 3 hari lebih berada di Bandung untuk sebuah kegiatan pelatihan dimana dirinya menjadi pembicara, dan besok pagi dia harus sudah kembali ke Jakarta. Sebetulnya malam ini dia bisa saja pulang karena perjalanan Jakarta – Bandung paling hanya ditempuh maksimal 3 – 4 jam saja, tetapi janji untuk bertemu Defina membuatnya bertahan untuk tinggal 1 malam lagi di kota ini.
Nirwan kemudian mengenang kembali pertemuan tak terduganya dengan Defina setelah hampir 10 tahun lebih tak pernah bertemu dan mendapat berita apapun, mendadak dia memperoleh kontak tak sengaja dengan Defina, saat seseorang dengan nama tersebut mengadd dirinya di facebook, belakangan memang Nirwan sering mencoba mencari kontak sahabat2 lamanya semasa sekolah, kuliah, atau bekerja dulu melalui facebook, setelah membaca dengan seksama profile kawan baru dunia mayanya itu, Nirwan yakin itu memang Defina yang pernah dia kenal dan hadir dalam hidupnya sepuluh tahun yang lalu. Setelah itu mereka berkomunikasi melalui mail dan chatting. Nirwan tak pernah menyangka Defina yang dia kira pergi entah ke mana setelah hubungan mereka yang berakhir begitu saja saat itu ternyata berada dalam jarak 4 jam saja dari dirinya selama ini.
Nirwan kembali mengenang masa indah bersama Defina di masa lalu, saat dia masih lajang dan bekerja di Surabaya, dia mengenal Defina di kampus tempat dia melanjutkan kuliah S1nya yang tak saat itu belum selesai, Defina bekerja sebagai salahsatu staf yayasan di perguruan tinggi itu, sementara dirinya adalah pegawai sebuah lembaga keuangan yang kemudian menutup kantornya saat krisis ekonomi dan moneter melanda negeri ini di era tahun 1999an, pertemuannya dengan Defina pada awalnya hanyalah sebatas hubungan antara seorang mahasiswa dengan pegawai kampus, sebuah hubungan biasa sampai akhirnya mereka sering bertemu di ruang kelas yang sama kerena Defina juga ternyata melanjutkan kuliah di kampus itu.
Tapi entah kenapa di sela2 pertemuan mereka timbul rasa ketertarikan dan akhirnya mereka terlibat dalam sebuah hubungan khusus. Baginya Defina adalah wanita yang luar biasa saat itu, dia seolah melengkapi hal-hal yang menjadi kekurangan dalam hidup Nirwan, sebagai seorang pria yang kaku, tak mudah berbicara dengan orang banyak, karakter Defina adalah kebalikan dari Nirwan, dia luwes, mudah bergaul, dan kemudian mereka menjadi pasangan terlihat serasi di mata orang2 yang mengenal mereka saat itu karena mereka seperti saling melengkapi. Usia Nirwan saat itu mendekati 30 tahun dan Defina masih 25 tahun, tetapi ada satu ganjalan yang membuat mereka setelah jalan bersama hampir 1 tahun lamanya menyadari, pada akhirnya mereka tak bisa meneruskan hubungan itu, karena ada perbedaan prinsip yang sangat mendasar dan tak bisa mereka temukan jalan keluarnya. Perpisahan yang sungguh menyakitkan bagi mereka berdua saat
itu, Defina akhirnya berhenti bekerja dan kuliah diperguruan tinggi itu karena dia menikah dengan seorang pria yang belakangan Nirwan tahu merupakan calon suami Defina yang sudah direncanakan oleh keluarganya untuk memisahkan mereka berdua. Mereka melaksanakan pesta pernikahan di Manado dan kemudian menetap di sana.
Setelah Defina berlalu dari hidupnya Nirwan merasakan kesunyian yang luar biasa dan lalu dia terhanyut dalam pelarian semu di temaramnya lampu2 diskotik dan botol2 minuman keras yang menggodanya untuk sekedar melupakan Defina, di saat yang bersamaanpun Nirwan harus kehilangan pekerjaannya seiring gelombang PHK besar2an yang melanda sektor bisnis keuangan sebagai dampak dari krisis moterer yang terus berlanjut sejak tahun 1997 hingga di penghujung tahun 1999, saat itu.
Nirwan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Surabaya dan kembali ke Jakarta segera setelah menyelesaikan kuliahnya yang tinggal 6 bulan lagi. Tak dinyana dalam sebuah acara pesta temannya Nirwan diperkenalkan oleh temannya dengan Arnita, dan entah kenapa dia tertarik pada sosok tegar wanita itu, dan kemudian Arnitapun perlahan tapi pasti hadir dalam hidupnya dan dia mulai bisa melupakan Defina, dan Arnitapun dapat menyinari hidup Nirwan dan perlahan tapi pasti diapun meninggalkan kebiasaannya hanging out dan menenggak minuman keras karena Arnita selalu menegur dan meningatkannya. 6 bulan terakhir berada di kota Surabaya dengan kehadiran Arnita membuat dirinya merasa memiliki kepercayaan diri dan semangat hidup kembali, dan babak kehidupan baru kemudian di mulai, karena setelah kembali ke Jakarta dan memperoleh pekerjaan baru beberapa bulan kemudian, Nirwan akhirnya mempersunting Arnita dan tanpa terasa waktu sepuluh tahun telah berlalu, kini Arnita telah menjadi bagian dari hidupnya dan telah memberinya 2 orang anak, dan mereka hidup cukup bahagia selama ini.
Melalui komunikasi lewat facebook itulah Nirwan memperoleh kabar2 terakhir dari Defina termasuk menemukan kawan2 lama mereka saat masih tinggal di Surabaya dulu, Arnita tak terlalu mengetahui hal ini karena dia berpikir bahwa Defina yang sering berkomunikasi dengan suaminya melalui facebook adalah satu dari sekian teman2 Nirwan yang dia tidak kenal atau mereka pernah kenali yang sering dia sapa saat suaminya browsing melalui komputer di rumah atau laptopnya. Arnita cukup memaklumi masa lalu suaminya yang memang pernah memiliki banyak sahabat termasuk teman dekat wanita, dan selama dia cukup terbuka mengenai kontak dengan kawan2 lamanya melalui dunia maya, Arnita dapat memahami semua itu. Apalagi mereka memang sudah menghadiri beberapa acara pertemuan dengan kawan2 lama mereka yang ditemui di dunia maya.
Handphone Nirwanpun berdering, terdengar suara Defina dari seberang sana; "aku sudah sampai Wan, kau ada di sebelah mana?", lalu Nirwan berdiri dan melihat seorang wanita yang pernah mempesona hidupnya berdiri di depan pintu masuk café, Nirwanpun lalu memanggil waitres yang berlalu di depannya meminta tolong agar dia memanggilkan seorang wanita yang dia tunjuk berada di depan meja kasir untuk datang ke mejanya karena mereka janjian bertemu di situ. Lalu sang waiterspun berlalu dan kemudian dia ditemani Defina mendatangi corner desk tempat Nirwan duduk.
Defina: kaukah itu Nirwan?, OMG! 10 tahun berlalu banyak sekali perubahan terjadi terhadap dirimu!, kau tampak lebih gemuk sekarang dan penampilanmu pas dengan usiamu saat ini ya, apa kabar Wan? (sambil mengulurkan tangan)
Nirwan: baik baik saja Fin, kau sendiri malah jauh lebih langsing, silahkan duduk mau minum apa?
Defina: aku tak terlalu paham minuman2 seperti ini, mungkin juice saja
Lalu Defina melihat daftar menu dan kemudian memesan segelas alvocado mocca juice
Defina: Tak disangka kita bertemu kembali ya, setelah hampir 10 tahun tak bertemu, bagaimana keluargamu Wan, Arnita dan anak2, apakah mereka baik2 saja
Nirwan: mereka semua baik2 saja, kau sendiri bagaimana, suami dan anak2mu?
Defina: hmmm, mereka juga baik2 saja, walaupun saat ini hubungan kami yang agak kurang baik2, tapi sudahlah semua sudah terjadi dan ini adalah masalah hidupku ya, kau tak perlu tahu itu
Nirwan: kau tahu Fina?, saat kau pergi dari hidupku saat itu, aku kehilangan semangat hidupku
Defina: aku tahu, kau jadi suka clubbing dan hanging-out tiap malam kan?, dan celakanya lagi saat kau sedang termabuk di tengah temaramnya dugem di tempat favoritmu itu, eh katanya sekarang tempat dugem itu sudah menjadi mall baru ya, saat itu kau bertemu dengan adikku dan dia lalu melaporkan temuan itu pada papa, sehingga aku tak punya alasan lagi untuk mempertahankan ahubungan kita. Karena kau tahu Wan, dalam tradisi kepercayaan yang kami anut kebiasaan hanging outmu termasuk salahsatu perbuatan yang dilarang, walaupun aku sendiri tak tahu apa keperluan adikku malam2 ada di depan nite club itu
Nirwan: sepertinya adikmu berniat membuntuti aku saat itu, tapi ya sudahlah, kita sudah menjalani hidup kita masing2 kan?, tak bisa kita memutar arah jarum jam kembali ke masa lalu, so, memangnya kenapa suamimu?
Defina: suamiku?, ah no comment Wan, tapi aku percaya itu adalah bagian dari rencana Tuhan untuk kami dan untuk menguji keimananku, aku mempercayai itu, aku tetap terikat pada janji setia yang kami ucapkan saat itu, akupun sering berdoa agar suamiku bisa berubah, aku sungguh tak menyangka suamiku memiliki kebiasaan buruk seperti itu
Nirwan: apa itu Fina?, katakan saja padaku?
Defina: di luar kehalusan dan kelembutan sikapnya yang pernah membuat kau mengolok2 Reynold sebagai lelaki yang patut dipertanyakan kelelakiannya saat aku memperkenalkannya padamu saat itu, ternyata suamiku diam2 memiliki sebuah kebiasaan yang hampir mirip denganmu dulu, tapi dia sungguh terlalu melakukannya justru kepada orang2 yang berada di sekitar kehidupan kami, dia memiliki banyak hubungan dengan wanita2 di sekitar tempatnya bekerja, bodohnya aku saat menikah dengan dia tak bisa mengenali hal buruk itu, dan baru setelah aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri beberapa tahun yang lalu, aku baru mengetahuinya.
Nirwan: suamimu selingkuh?, hal yang lumrah terjadi pada setiap laki2 Fina
Defina: lumrah katamu Wan, bagi setiap wanita selingkuh itu menyakitkan, ingat itu
Nirwan: maafkan aku deh kalau pendapatku membuatmu tersinggung, lalu apa yang terjadi?
Defina: saat itu 2 tahun yang lalu, aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri di rumah kami, suamiku melakukan hal yang tak patut dengan salahsatu asistennya, aku sungguh tak menyangka mereka melakukan hal itu, karena jika diketahui akan merusak citra besar organisasi keagamaan tempat suamiku mengabdikan diri dan hidupnya.
Nirwan: lalu apa tindakanmu saat itu?
Defina: aku hanya meminta wanita itu pergi dan kepada suamiku aku meminta dia berpikir seribu kali untuk melakukan perbuatan2 seperti itu lagi, karena bukan hanya akan menghancurkan hidupku dan keluargaku saja, tapi akan menjadi aib besar bagi organisasi tempat dia mengabdikan diri
Nirwan: setelah itu?
Defina: aku mendengar kabar wanita itu dipindahtugaskan ke kota lain atas permintaan suamiku, tapi tak lama kemudian hal yang sama kembali terulang dengan beberapa rekan kerjanya yang lain, kasus yang terakhir malah menjadi berita besar yang sempat menghebohkan kota kelahiran kami dan merusak citra organisasi keagamaan tempat suamiku bekerja, akhirnya suamiku diberhentikan secara tidak hormat dari semua tugas pelayanan agama dan kemudian kami pindah ke Bandung karena papa mertuaku meminta suamiku untuk mengelola bisnis keluarganya dan dia tidak memiliki staff atau teman kerja wanita dalam tugasnya sehari2 saat ini, tapi kebiasaannya berselingkuh tetap saja terjadi, kali ini dia selalu membawa gadis-gadis belia entah itu siapa tanpa rasa sungkan sedikitpun padaku dengan alasan ini bagian dari pekerjaannya untuk meng-entertain relasi-relasi bisnisnya. Kenyataan ini membuat aku tak tahan, kami memutuskan pisah rumah 6 bulan yang lalu, anak2 aku yang mengurus walau suamiku tetap komit untuk menafkahi kami semua, sejak saat itu semua perilakunya bukan urusanku lagi Wan, aku hanya ingin membesarkan ketiga anakku yang masih kecil-kecil ini.
Nirwan: kenapa kau tak meminta cerai?
Defina: dalam keyakinan kami, perceraian itu panjang prosesnya Wan, sangat rumit, tidak seperti dalam keyakinanmu, jadi kami berpisah sementara ini, sambil berharap dalam kesendiriannya suamiku bisa berubah dan kembali padaku untuk menjadi suami dan ayah yang baik bagi anak2 kami
Nirwan lalu menatap wajah Defina, terlihat kesedihan yang mendalam terpancar di wajah Dfina yang tetap saja tampak mempesona, gurat2 kecantikan dalam raut Wajah Defina masih tampak jelas, walaupun kesedihan tampak menyelimuti wajahnya, dari sosok Defina tetap terpancar aura kesejukan yang menentramkan sama seperti pesona yang dia rasakan saat pertama kali mengenal Defina, rasa2nya aku masih mencintai wanita ini, pikir Nirwan.
Nirwan: kau tahu Defina?, andai saja saat itu kau berani mengambil keputusan yang nekat, mungkin semuanya akan berbeda ya, maka aku tidak pernah akan bertemu Arnita dan kau tak akan pernah bertemu Reynold
Defina: takdir Tuhan kan sudah diputuskan untuk kita berdua Wan, kita terima saja dan jalani itu, dan kau sendiri sudah memiliki Arnita sekarang, dia lebih berani dari aku ya, mengambil keputusan berat seperti itu, kau jangan sia2kan Arnita, dia pasti sangat mencintaimu, kau tak pernah berselingkuh kan Wan?
Nirwan: kau mau jawaban sejujurnya atau tidak?
Defina: sejujurnya dong Wan, kamu pasti pernah berselingkuh kan?, mengaku saja!, aku jadi ingat saat kita masih berhubungan dulu aku sering marah karena kau suka menggoda teman2ku dan diam2 kau berkirim sms atau bertemu entah dengan wanita mana, aku tak percaya bila kau tak pernah berselingkuh, hayo jujur saja mengaku, tak akan aku bilang pada Arnita
Nirwan: aku pernah berselingkuh Fina, tapi aku tidak sesial dan juga tidak segila suamimu, aku tak pernah membina hubungan dengan orang2 di sekitarku, tapi aku pernah mengenal seorang wanita yang sempat membuatku berpikir untuk berpaling dari Arnita, sampai akhirnya Arnita mengetahuinya
Defina: lalu dia marah dan bersikap seperti aku?
Nirwan: dia sangat marah dan meminta aku tidak melakukannya lagi, dia pergi dari rumah dan perlu waktu lama untuk membujuknya pulang kembali, dan setelah kejadian itu aku merasa sangat berdosa kepada Arnita, saat dia pergi berhari2 meninggalkan rumah, aku merasakan kehilangan yang sangat, hidupku terasa lumpuh dan hampa tanpa kehadiran Arnita dan anak2ku, akhirnya aku menjemput Arnita di rumah adiknya, dan aku berjanji kepada dia untuk tak mengulangi kesalahan itu lagi
Defina: syukurlah kau bisa punya perasaan seperti itu, andai saja Reynold punya sikap yang sama, dia sekarang malah merasa bebas merdeka tanpa kehadiran aku dan anak2 di sisinya, kalau tak di minta datang Reynold tak akan menjenguk anak2 dan aku, dia berpikir selama dia mentransfer uang dan mencukupi semua kebutuhan materi kami maka kewajibannya sudah terpenuhi, sungguh terlalu, mungkin dia memang tidak sepenuhnya mencintaiku ya Wan, dia mungkin terpaksa sama seperti aku juga merasa terpaksa saat kami menikah, sehingga itu yang membuat dia tak pernah merasa kami bagian dari hidupnya. Berbahagialah Arnita yang memiliki suami yang mencintai dirinya dan anak2nya. (lalu Defina secara spontan memegang tangan Nirwan)
Nirwan: Fina, andai saja aku masih sendiri saat ini lalu bertemu kau pasti aku akan meminta Reynold untuk segera menceraikanmu dan aku akan menikahimu, sejujurnya aku masih mencintaimu, aku tak pernah bisa melupakanmu setelah perpisahan yang menyakitkan hatiku itu, tapi…
Defina; sudahlah, kau jangan berpikir seperti itu Wan, kau sudah mengetahui apa yang terjadi dalam hidupku, jangan kau ulangi kejadian pilu dalam hidupku kepada keluargamu, jika kau masih mencintaiku, maka berjanjilah padaku bahwa kau akan senantiasa mencintai keluargamu Wan, kita bisa bersahabat dan berteman, apalagi sekarang komunikasi mudah dilakukan, jarak tak jadi penghalang bagi kita, kau masih bisa menyapaku di chat room atau berkirim email, perlakukan aku seperti layaknya sahabat2 lain dalam hidupmu, bisa kan Wan?, (lalu Defina melepaskan pegangan tangannya)
Nirwan: hmmm, sejujurnya jika itu permintaanmu akan kulakukan, aku hanya mau tahu apakah kau masih mencintaiku saat ini?
Defina: sejujurnya aku masih mencintaimu, bahkan mungkin aku juga berharap suatu saat entah kapan, kau akan hadir kembali dalam hidupku, bahkan aku sering berkhayal andai aku bisa bertukar tempat dengan Arnita, tapi itu hanya imajinasiku saja, itu hanyalah sebuah pengharapan, yang mungkin tak akan pernah bisa menjadi kenyataan karena di dalam kenyataan yang sesungguhnya aku harus melihat realitas bahwa Arnita sudah terlebih dahulu hadir dalam hidupmu, walau aku tak kenal siapa dia, tapi dari sosok foto2 keluargamu yang sering aku lihat di facebook, Arnita adalah wanita yang sangat sempurna untukmu, kau sudah menemukan kebahagian hidupmu Wan, sadari itu
Nirwan: iya Fin, walaupun aku sering merasa bersalah pada Arnita, aku belum bisa memberikan kebahagiaan secara materi kepada dia, kau lihat aku, 3 hari aku ada di Bandung untuk mengajar pelatihan, karena penghasilanku tak banyak, tidak seperti Reynold, walaupun kalian berpisah dia bisa memberikan tempat tinggal yang nyaman untukmu dan anak2mu dan menafkahi kalian
Defina: Wan, kebahagian sejati tidak diukur dari nilai materi yang kau miliki, kau pikir aku sekarang bahagia dengan rumah yang kutempati?, dengan kendaraan yang aku gunakan saat ini (sambil menunjuk kunci kontak mobil yang digenggamnya), termasuk uang yang Reynold kirimkan kepadaku tiap bulan?, aku merasakan kehampaan dalam hidupku Wan, seringkali orang berpikir bahwa kebahagian itu berasal dari uang, tapi sesungguhnya tidak, money is not everything Wan, kau jangan pernah berpikir picik seperti itu, syukuri apa yang kau miliki Wan, untuk apa kau memiliki segalanya kalau kau berkarakter seperti suamiku Reynold?, kau mau bertukar tempat dengan dia memangnya?
Nirwan: hehehehe, aku tak maul ah menjadi Reynold, aku hanya mau menjadi diriku sendiri
Lalu mereka berbincang banyak hal sore itu, hari itu terasa menyenangkan bagi mereka berdua, s ebuah rendevouz yang tak pernah terlintas dalam benak Nirwan dan Defina, saat jam 6 tiba Nirwan permisi untuk melaksanakan shalat mgahrib dan diapun pergi sekitar 10 menit lamanya, sambil menunggu Nirwan kembali Defina meminta tolong kepada seorang waiters café yang akab beristirahat untuk membelikan beberapa penganan ringan sebagai oleh2 darinya untuk keluarga Nirwan di Jakarta. Defina merasakan dirinya menemukan semangat dan cinta yang pernah hilang walaupun dia menyadari tak mungkin dia memperoleh cinta Nirwan kembali, karena mereka berdua sekarang memiliki banyak keterbatasan dan komitmen terhadap pasangan hidupnya masing2. Tak lama kemudian Nirwan kembali ke corner desk itu, mereka memesan tambahan minuman dan pastry, banyak sekali yang dibicarakan malam itu, seperti sebuah review ke masa lalu mereka, bercerita tentang hal2 yang indah dan lucu yang pernah mereka jalani bersama.
Tak terasa hampir 3 jam berlalu sudah dan malam mulai datang menyergap, Nirwan lalu menatap jam tangannya, sudah menunjukkan jam 08.00 malam. Lalu Definapun pamit pulang.
Defina: aku pulang ya Wan, tak baik rasanya seorang wanita yang masih bersuami dan seorang laki2 yang beristri duduk lama2 bersama di sini lewat jam 7 malam,
aku tahu pasti kau memahami hal itu
Nirwan: sebenarnya aku masih ingin berbincang denganmu… tapi sudah malam ya, tidak terlalu malam sebenarnya kalau kita masih muda dulu ya
Defina: hus!, ingat sama status kita masing2 Wan, kau tak menyadari sosok2 yang duduk di sebelah kita yang entah berapa kali mencuri pandang kepada kita, mereka seperti melihat seorang om dan tante bertemu, hehehehe,
Nirwan: bagi mereka kita adalah sepasang kekasih lama yang bertemu, biarkan saja mereka berpikiran seperti itu
Defina: ada2 ada saja kau Wan, terima kasih telah mentraktirku dan pertemuan ini membuat aku menemukan semangat hidupku sendiri, aku kini tak takut lagi hidup sendirian, lalu jangan lupa ya Wan, rencana itu, jika kau memang butuh bantuanku
untuk melakukan kegiatan2 apa saja di kota ini, kontak2 aku saja, aku butuh kegiatan untuk mengisi waktu luangku, karena Reynold tak memberiku kesempatan untuk membantu bisnisnya walaupun aku sudah berulangkali memintanya, entah kenapa, tapi dengan satu syarat ya…
Nirwan: apa syaratnya?
Defina: Arnita harus mengetahui bahwa kau memiliki sahabat bernama Defina di kota ini dan kita mempunyai hubungan kerja atau apalah namanya itu, walaupun dia tak perlu tahu bahwa kita pernah memiliki hubungan dan kenangan indah di masa lalu, karena aku khawatir hal-hal yang kurang baik bisa terjadi nanti jika kau merahasiakan hal ini dari istrimu, dan kau juga harus berjanji padaku bahwa kau akan memperlakukan aku sebagai sahabat dan mitra kerja, bukan sebagai Defina yang pernah hadir dalam hidupmu dulu, jika kau tak sanggup dengan syarat itu, maka kita tak perlu bertemu lagi, aku tak mau merasa bersalah kepada Reynold karena seburuk apapun dia tetap suamiku dan kau juga tak merasa berdosa pada Arnita, bagaimana, kesepakatan yang adil buat kita berdua kan?,
Nirwan: aku setuju, jika itu bisa membahagiakanmu dan semua itu tidak akan merubah hal apapun yang ada disekeliling kita.
Defina: pasti itu, semoga perjalananmu besok pagi ke Jakarta aman2 saja ya, oh ya sebentar, (lalu Defina melambaikan tangannya kepada waiters yang membawa bungkusan berisi penganan khas Bandung beraneka ragam), ini aku bawakan sekedar oleh2 untuk keluargamu di Jakarta, tadi saat kau shalat maghrib aku minta mas ini membelikan oleh2 ini, karena kau telah mentraktirku di sini entah berapa gelas coffe dan juice kita minum ya dan pastry yang kita makan rasanya sudah lebih dari cukup untuk mengganti makan malam kita, aku mau titip oleh2 untuk Arnita dan anak2mu, bilang saja dari kawan lamamu, suatu saat kalau aku ke Jakarta aku ingin bertemu dengan Arnita dan anak2mu ya Wan,
Nirwan: terima kasih Fina, kau juga hati2 di jalan, yakin kita tidak makan malam dulu?
Defina: Wan, sebenarnya aku ingin mengajakmu makan malam saat ini, tapi lalu aku
sadar kita harus membatasi diri pada pertemuan ini, kau pasti paham kan Wan, lagipula di rumah pembantuku pasti sudah memasak makan malam untukku dan kau sendiri pasti makan malam di hotel atau di sekitar sini, jika kita pergi lagi untuk makan malam bersama dan setelah itu…., aku takut Wan, kita harus menjaga diri kita dan menghargai perasaan pasangan hidup kita masing2, ya kan?.
Nirwan: baiklah kalau begitu, selamat malam Fina, hati2 di jalan ya.
Setelah membayar bills, Nirwan mengantarkan Defina sampai di tempat parkir, lalu Defina berlalu dengan kendaraan yang dia kemudikan sendiri, Nirwanpun lalu menyusuri sepanjang Jalan Braga untuk mencari makan malam mampir ke sebuah restoran cepat saji dan memesan makan malam, dia kemudian menyantap pesanannya, setelah itu Nirwan meninggalkan restoran itu kembali berjalan menuju hotelnya, sesampainya di lobby hotelnya dia menuju receiptionist dan mengambil kunci kamar yang dititipkannya, kemudian berjalan menuju lift lalu memasuki kamarnya, Nirwanpun bersiap untuk tidur malam itu.
Sebelum tertidur Nirwan mengenang pertemuan tadi; Rendevouz yang menyenangkan dan penuh kenangan, tapi Defina adalah masa lalu dalam hidupku dan saat ini dia telah menjelma menjadi sahabatku sama seperti sahabat2ku lainnya, jika aku masih berpikir seperti di masa lalu maka aku akan menghancurkan hidupku sendiri, dan saat ini aku harus melanjutkan hidupku dan besok aku kembali kepada keluargaku, ke tengah2 istriku dan anak2ku, guman Nirwan sebelum kemudian rasa kantuk yang hebat menerjangnya.
Dan Nirwanpun tertidur lelap malam itu.….
Dia kemudian duduk di meja yang posisinya berada di pojok café tersebut. Setelah itu lalu dia membaca sms terakhir di handphone blackberrynya, yang dikirim oleh Defina sekitar 5 menit yang lalu; "aku on the way menuju lokasi Wan, sesampainya di café itu pasti aku sms or call, tunggu ya"
Kemudian Nirwan memesan expresso shots dan beberapa pastry kegemarannya setiap saat dia mampir ke café itu di manapun dia singgah, hari yang melelahkan sebetulnya setelah 3 hari lebih berada di Bandung untuk sebuah kegiatan pelatihan dimana dirinya menjadi pembicara, dan besok pagi dia harus sudah kembali ke Jakarta. Sebetulnya malam ini dia bisa saja pulang karena perjalanan Jakarta – Bandung paling hanya ditempuh maksimal 3 – 4 jam saja, tetapi janji untuk bertemu Defina membuatnya bertahan untuk tinggal 1 malam lagi di kota ini.
Nirwan kemudian mengenang kembali pertemuan tak terduganya dengan Defina setelah hampir 10 tahun lebih tak pernah bertemu dan mendapat berita apapun, mendadak dia memperoleh kontak tak sengaja dengan Defina, saat seseorang dengan nama tersebut mengadd dirinya di facebook, belakangan memang Nirwan sering mencoba mencari kontak sahabat2 lamanya semasa sekolah, kuliah, atau bekerja dulu melalui facebook, setelah membaca dengan seksama profile kawan baru dunia mayanya itu, Nirwan yakin itu memang Defina yang pernah dia kenal dan hadir dalam hidupnya sepuluh tahun yang lalu. Setelah itu mereka berkomunikasi melalui mail dan chatting. Nirwan tak pernah menyangka Defina yang dia kira pergi entah ke mana setelah hubungan mereka yang berakhir begitu saja saat itu ternyata berada dalam jarak 4 jam saja dari dirinya selama ini.
Nirwan kembali mengenang masa indah bersama Defina di masa lalu, saat dia masih lajang dan bekerja di Surabaya, dia mengenal Defina di kampus tempat dia melanjutkan kuliah S1nya yang tak saat itu belum selesai, Defina bekerja sebagai salahsatu staf yayasan di perguruan tinggi itu, sementara dirinya adalah pegawai sebuah lembaga keuangan yang kemudian menutup kantornya saat krisis ekonomi dan moneter melanda negeri ini di era tahun 1999an, pertemuannya dengan Defina pada awalnya hanyalah sebatas hubungan antara seorang mahasiswa dengan pegawai kampus, sebuah hubungan biasa sampai akhirnya mereka sering bertemu di ruang kelas yang sama kerena Defina juga ternyata melanjutkan kuliah di kampus itu.
Tapi entah kenapa di sela2 pertemuan mereka timbul rasa ketertarikan dan akhirnya mereka terlibat dalam sebuah hubungan khusus. Baginya Defina adalah wanita yang luar biasa saat itu, dia seolah melengkapi hal-hal yang menjadi kekurangan dalam hidup Nirwan, sebagai seorang pria yang kaku, tak mudah berbicara dengan orang banyak, karakter Defina adalah kebalikan dari Nirwan, dia luwes, mudah bergaul, dan kemudian mereka menjadi pasangan terlihat serasi di mata orang2 yang mengenal mereka saat itu karena mereka seperti saling melengkapi. Usia Nirwan saat itu mendekati 30 tahun dan Defina masih 25 tahun, tetapi ada satu ganjalan yang membuat mereka setelah jalan bersama hampir 1 tahun lamanya menyadari, pada akhirnya mereka tak bisa meneruskan hubungan itu, karena ada perbedaan prinsip yang sangat mendasar dan tak bisa mereka temukan jalan keluarnya. Perpisahan yang sungguh menyakitkan bagi mereka berdua saat
itu, Defina akhirnya berhenti bekerja dan kuliah diperguruan tinggi itu karena dia menikah dengan seorang pria yang belakangan Nirwan tahu merupakan calon suami Defina yang sudah direncanakan oleh keluarganya untuk memisahkan mereka berdua. Mereka melaksanakan pesta pernikahan di Manado dan kemudian menetap di sana.
Setelah Defina berlalu dari hidupnya Nirwan merasakan kesunyian yang luar biasa dan lalu dia terhanyut dalam pelarian semu di temaramnya lampu2 diskotik dan botol2 minuman keras yang menggodanya untuk sekedar melupakan Defina, di saat yang bersamaanpun Nirwan harus kehilangan pekerjaannya seiring gelombang PHK besar2an yang melanda sektor bisnis keuangan sebagai dampak dari krisis moterer yang terus berlanjut sejak tahun 1997 hingga di penghujung tahun 1999, saat itu.
Nirwan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Surabaya dan kembali ke Jakarta segera setelah menyelesaikan kuliahnya yang tinggal 6 bulan lagi. Tak dinyana dalam sebuah acara pesta temannya Nirwan diperkenalkan oleh temannya dengan Arnita, dan entah kenapa dia tertarik pada sosok tegar wanita itu, dan kemudian Arnitapun perlahan tapi pasti hadir dalam hidupnya dan dia mulai bisa melupakan Defina, dan Arnitapun dapat menyinari hidup Nirwan dan perlahan tapi pasti diapun meninggalkan kebiasaannya hanging out dan menenggak minuman keras karena Arnita selalu menegur dan meningatkannya. 6 bulan terakhir berada di kota Surabaya dengan kehadiran Arnita membuat dirinya merasa memiliki kepercayaan diri dan semangat hidup kembali, dan babak kehidupan baru kemudian di mulai, karena setelah kembali ke Jakarta dan memperoleh pekerjaan baru beberapa bulan kemudian, Nirwan akhirnya mempersunting Arnita dan tanpa terasa waktu sepuluh tahun telah berlalu, kini Arnita telah menjadi bagian dari hidupnya dan telah memberinya 2 orang anak, dan mereka hidup cukup bahagia selama ini.
Melalui komunikasi lewat facebook itulah Nirwan memperoleh kabar2 terakhir dari Defina termasuk menemukan kawan2 lama mereka saat masih tinggal di Surabaya dulu, Arnita tak terlalu mengetahui hal ini karena dia berpikir bahwa Defina yang sering berkomunikasi dengan suaminya melalui facebook adalah satu dari sekian teman2 Nirwan yang dia tidak kenal atau mereka pernah kenali yang sering dia sapa saat suaminya browsing melalui komputer di rumah atau laptopnya. Arnita cukup memaklumi masa lalu suaminya yang memang pernah memiliki banyak sahabat termasuk teman dekat wanita, dan selama dia cukup terbuka mengenai kontak dengan kawan2 lamanya melalui dunia maya, Arnita dapat memahami semua itu. Apalagi mereka memang sudah menghadiri beberapa acara pertemuan dengan kawan2 lama mereka yang ditemui di dunia maya.
Handphone Nirwanpun berdering, terdengar suara Defina dari seberang sana; "aku sudah sampai Wan, kau ada di sebelah mana?", lalu Nirwan berdiri dan melihat seorang wanita yang pernah mempesona hidupnya berdiri di depan pintu masuk café, Nirwanpun lalu memanggil waitres yang berlalu di depannya meminta tolong agar dia memanggilkan seorang wanita yang dia tunjuk berada di depan meja kasir untuk datang ke mejanya karena mereka janjian bertemu di situ. Lalu sang waiterspun berlalu dan kemudian dia ditemani Defina mendatangi corner desk tempat Nirwan duduk.
Defina: kaukah itu Nirwan?, OMG! 10 tahun berlalu banyak sekali perubahan terjadi terhadap dirimu!, kau tampak lebih gemuk sekarang dan penampilanmu pas dengan usiamu saat ini ya, apa kabar Wan? (sambil mengulurkan tangan)
Nirwan: baik baik saja Fin, kau sendiri malah jauh lebih langsing, silahkan duduk mau minum apa?
Defina: aku tak terlalu paham minuman2 seperti ini, mungkin juice saja
Lalu Defina melihat daftar menu dan kemudian memesan segelas alvocado mocca juice
Defina: Tak disangka kita bertemu kembali ya, setelah hampir 10 tahun tak bertemu, bagaimana keluargamu Wan, Arnita dan anak2, apakah mereka baik2 saja
Nirwan: mereka semua baik2 saja, kau sendiri bagaimana, suami dan anak2mu?
Defina: hmmm, mereka juga baik2 saja, walaupun saat ini hubungan kami yang agak kurang baik2, tapi sudahlah semua sudah terjadi dan ini adalah masalah hidupku ya, kau tak perlu tahu itu
Nirwan: kau tahu Fina?, saat kau pergi dari hidupku saat itu, aku kehilangan semangat hidupku
Defina: aku tahu, kau jadi suka clubbing dan hanging-out tiap malam kan?, dan celakanya lagi saat kau sedang termabuk di tengah temaramnya dugem di tempat favoritmu itu, eh katanya sekarang tempat dugem itu sudah menjadi mall baru ya, saat itu kau bertemu dengan adikku dan dia lalu melaporkan temuan itu pada papa, sehingga aku tak punya alasan lagi untuk mempertahankan ahubungan kita. Karena kau tahu Wan, dalam tradisi kepercayaan yang kami anut kebiasaan hanging outmu termasuk salahsatu perbuatan yang dilarang, walaupun aku sendiri tak tahu apa keperluan adikku malam2 ada di depan nite club itu
Nirwan: sepertinya adikmu berniat membuntuti aku saat itu, tapi ya sudahlah, kita sudah menjalani hidup kita masing2 kan?, tak bisa kita memutar arah jarum jam kembali ke masa lalu, so, memangnya kenapa suamimu?
Defina: suamiku?, ah no comment Wan, tapi aku percaya itu adalah bagian dari rencana Tuhan untuk kami dan untuk menguji keimananku, aku mempercayai itu, aku tetap terikat pada janji setia yang kami ucapkan saat itu, akupun sering berdoa agar suamiku bisa berubah, aku sungguh tak menyangka suamiku memiliki kebiasaan buruk seperti itu
Nirwan: apa itu Fina?, katakan saja padaku?
Defina: di luar kehalusan dan kelembutan sikapnya yang pernah membuat kau mengolok2 Reynold sebagai lelaki yang patut dipertanyakan kelelakiannya saat aku memperkenalkannya padamu saat itu, ternyata suamiku diam2 memiliki sebuah kebiasaan yang hampir mirip denganmu dulu, tapi dia sungguh terlalu melakukannya justru kepada orang2 yang berada di sekitar kehidupan kami, dia memiliki banyak hubungan dengan wanita2 di sekitar tempatnya bekerja, bodohnya aku saat menikah dengan dia tak bisa mengenali hal buruk itu, dan baru setelah aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri beberapa tahun yang lalu, aku baru mengetahuinya.
Nirwan: suamimu selingkuh?, hal yang lumrah terjadi pada setiap laki2 Fina
Defina: lumrah katamu Wan, bagi setiap wanita selingkuh itu menyakitkan, ingat itu
Nirwan: maafkan aku deh kalau pendapatku membuatmu tersinggung, lalu apa yang terjadi?
Defina: saat itu 2 tahun yang lalu, aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri di rumah kami, suamiku melakukan hal yang tak patut dengan salahsatu asistennya, aku sungguh tak menyangka mereka melakukan hal itu, karena jika diketahui akan merusak citra besar organisasi keagamaan tempat suamiku mengabdikan diri dan hidupnya.
Nirwan: lalu apa tindakanmu saat itu?
Defina: aku hanya meminta wanita itu pergi dan kepada suamiku aku meminta dia berpikir seribu kali untuk melakukan perbuatan2 seperti itu lagi, karena bukan hanya akan menghancurkan hidupku dan keluargaku saja, tapi akan menjadi aib besar bagi organisasi tempat dia mengabdikan diri
Nirwan: setelah itu?
Defina: aku mendengar kabar wanita itu dipindahtugaskan ke kota lain atas permintaan suamiku, tapi tak lama kemudian hal yang sama kembali terulang dengan beberapa rekan kerjanya yang lain, kasus yang terakhir malah menjadi berita besar yang sempat menghebohkan kota kelahiran kami dan merusak citra organisasi keagamaan tempat suamiku bekerja, akhirnya suamiku diberhentikan secara tidak hormat dari semua tugas pelayanan agama dan kemudian kami pindah ke Bandung karena papa mertuaku meminta suamiku untuk mengelola bisnis keluarganya dan dia tidak memiliki staff atau teman kerja wanita dalam tugasnya sehari2 saat ini, tapi kebiasaannya berselingkuh tetap saja terjadi, kali ini dia selalu membawa gadis-gadis belia entah itu siapa tanpa rasa sungkan sedikitpun padaku dengan alasan ini bagian dari pekerjaannya untuk meng-entertain relasi-relasi bisnisnya. Kenyataan ini membuat aku tak tahan, kami memutuskan pisah rumah 6 bulan yang lalu, anak2 aku yang mengurus walau suamiku tetap komit untuk menafkahi kami semua, sejak saat itu semua perilakunya bukan urusanku lagi Wan, aku hanya ingin membesarkan ketiga anakku yang masih kecil-kecil ini.
Nirwan: kenapa kau tak meminta cerai?
Defina: dalam keyakinan kami, perceraian itu panjang prosesnya Wan, sangat rumit, tidak seperti dalam keyakinanmu, jadi kami berpisah sementara ini, sambil berharap dalam kesendiriannya suamiku bisa berubah dan kembali padaku untuk menjadi suami dan ayah yang baik bagi anak2 kami
Nirwan lalu menatap wajah Defina, terlihat kesedihan yang mendalam terpancar di wajah Dfina yang tetap saja tampak mempesona, gurat2 kecantikan dalam raut Wajah Defina masih tampak jelas, walaupun kesedihan tampak menyelimuti wajahnya, dari sosok Defina tetap terpancar aura kesejukan yang menentramkan sama seperti pesona yang dia rasakan saat pertama kali mengenal Defina, rasa2nya aku masih mencintai wanita ini, pikir Nirwan.
Nirwan: kau tahu Defina?, andai saja saat itu kau berani mengambil keputusan yang nekat, mungkin semuanya akan berbeda ya, maka aku tidak pernah akan bertemu Arnita dan kau tak akan pernah bertemu Reynold
Defina: takdir Tuhan kan sudah diputuskan untuk kita berdua Wan, kita terima saja dan jalani itu, dan kau sendiri sudah memiliki Arnita sekarang, dia lebih berani dari aku ya, mengambil keputusan berat seperti itu, kau jangan sia2kan Arnita, dia pasti sangat mencintaimu, kau tak pernah berselingkuh kan Wan?
Nirwan: kau mau jawaban sejujurnya atau tidak?
Defina: sejujurnya dong Wan, kamu pasti pernah berselingkuh kan?, mengaku saja!, aku jadi ingat saat kita masih berhubungan dulu aku sering marah karena kau suka menggoda teman2ku dan diam2 kau berkirim sms atau bertemu entah dengan wanita mana, aku tak percaya bila kau tak pernah berselingkuh, hayo jujur saja mengaku, tak akan aku bilang pada Arnita
Nirwan: aku pernah berselingkuh Fina, tapi aku tidak sesial dan juga tidak segila suamimu, aku tak pernah membina hubungan dengan orang2 di sekitarku, tapi aku pernah mengenal seorang wanita yang sempat membuatku berpikir untuk berpaling dari Arnita, sampai akhirnya Arnita mengetahuinya
Defina: lalu dia marah dan bersikap seperti aku?
Nirwan: dia sangat marah dan meminta aku tidak melakukannya lagi, dia pergi dari rumah dan perlu waktu lama untuk membujuknya pulang kembali, dan setelah kejadian itu aku merasa sangat berdosa kepada Arnita, saat dia pergi berhari2 meninggalkan rumah, aku merasakan kehilangan yang sangat, hidupku terasa lumpuh dan hampa tanpa kehadiran Arnita dan anak2ku, akhirnya aku menjemput Arnita di rumah adiknya, dan aku berjanji kepada dia untuk tak mengulangi kesalahan itu lagi
Defina: syukurlah kau bisa punya perasaan seperti itu, andai saja Reynold punya sikap yang sama, dia sekarang malah merasa bebas merdeka tanpa kehadiran aku dan anak2 di sisinya, kalau tak di minta datang Reynold tak akan menjenguk anak2 dan aku, dia berpikir selama dia mentransfer uang dan mencukupi semua kebutuhan materi kami maka kewajibannya sudah terpenuhi, sungguh terlalu, mungkin dia memang tidak sepenuhnya mencintaiku ya Wan, dia mungkin terpaksa sama seperti aku juga merasa terpaksa saat kami menikah, sehingga itu yang membuat dia tak pernah merasa kami bagian dari hidupnya. Berbahagialah Arnita yang memiliki suami yang mencintai dirinya dan anak2nya. (lalu Defina secara spontan memegang tangan Nirwan)
Nirwan: Fina, andai saja aku masih sendiri saat ini lalu bertemu kau pasti aku akan meminta Reynold untuk segera menceraikanmu dan aku akan menikahimu, sejujurnya aku masih mencintaimu, aku tak pernah bisa melupakanmu setelah perpisahan yang menyakitkan hatiku itu, tapi…
Defina; sudahlah, kau jangan berpikir seperti itu Wan, kau sudah mengetahui apa yang terjadi dalam hidupku, jangan kau ulangi kejadian pilu dalam hidupku kepada keluargamu, jika kau masih mencintaiku, maka berjanjilah padaku bahwa kau akan senantiasa mencintai keluargamu Wan, kita bisa bersahabat dan berteman, apalagi sekarang komunikasi mudah dilakukan, jarak tak jadi penghalang bagi kita, kau masih bisa menyapaku di chat room atau berkirim email, perlakukan aku seperti layaknya sahabat2 lain dalam hidupmu, bisa kan Wan?, (lalu Defina melepaskan pegangan tangannya)
Nirwan: hmmm, sejujurnya jika itu permintaanmu akan kulakukan, aku hanya mau tahu apakah kau masih mencintaiku saat ini?
Defina: sejujurnya aku masih mencintaimu, bahkan mungkin aku juga berharap suatu saat entah kapan, kau akan hadir kembali dalam hidupku, bahkan aku sering berkhayal andai aku bisa bertukar tempat dengan Arnita, tapi itu hanya imajinasiku saja, itu hanyalah sebuah pengharapan, yang mungkin tak akan pernah bisa menjadi kenyataan karena di dalam kenyataan yang sesungguhnya aku harus melihat realitas bahwa Arnita sudah terlebih dahulu hadir dalam hidupmu, walau aku tak kenal siapa dia, tapi dari sosok foto2 keluargamu yang sering aku lihat di facebook, Arnita adalah wanita yang sangat sempurna untukmu, kau sudah menemukan kebahagian hidupmu Wan, sadari itu
Nirwan: iya Fin, walaupun aku sering merasa bersalah pada Arnita, aku belum bisa memberikan kebahagiaan secara materi kepada dia, kau lihat aku, 3 hari aku ada di Bandung untuk mengajar pelatihan, karena penghasilanku tak banyak, tidak seperti Reynold, walaupun kalian berpisah dia bisa memberikan tempat tinggal yang nyaman untukmu dan anak2mu dan menafkahi kalian
Defina: Wan, kebahagian sejati tidak diukur dari nilai materi yang kau miliki, kau pikir aku sekarang bahagia dengan rumah yang kutempati?, dengan kendaraan yang aku gunakan saat ini (sambil menunjuk kunci kontak mobil yang digenggamnya), termasuk uang yang Reynold kirimkan kepadaku tiap bulan?, aku merasakan kehampaan dalam hidupku Wan, seringkali orang berpikir bahwa kebahagian itu berasal dari uang, tapi sesungguhnya tidak, money is not everything Wan, kau jangan pernah berpikir picik seperti itu, syukuri apa yang kau miliki Wan, untuk apa kau memiliki segalanya kalau kau berkarakter seperti suamiku Reynold?, kau mau bertukar tempat dengan dia memangnya?
Nirwan: hehehehe, aku tak maul ah menjadi Reynold, aku hanya mau menjadi diriku sendiri
Lalu mereka berbincang banyak hal sore itu, hari itu terasa menyenangkan bagi mereka berdua, s ebuah rendevouz yang tak pernah terlintas dalam benak Nirwan dan Defina, saat jam 6 tiba Nirwan permisi untuk melaksanakan shalat mgahrib dan diapun pergi sekitar 10 menit lamanya, sambil menunggu Nirwan kembali Defina meminta tolong kepada seorang waiters café yang akab beristirahat untuk membelikan beberapa penganan ringan sebagai oleh2 darinya untuk keluarga Nirwan di Jakarta. Defina merasakan dirinya menemukan semangat dan cinta yang pernah hilang walaupun dia menyadari tak mungkin dia memperoleh cinta Nirwan kembali, karena mereka berdua sekarang memiliki banyak keterbatasan dan komitmen terhadap pasangan hidupnya masing2. Tak lama kemudian Nirwan kembali ke corner desk itu, mereka memesan tambahan minuman dan pastry, banyak sekali yang dibicarakan malam itu, seperti sebuah review ke masa lalu mereka, bercerita tentang hal2 yang indah dan lucu yang pernah mereka jalani bersama.
Tak terasa hampir 3 jam berlalu sudah dan malam mulai datang menyergap, Nirwan lalu menatap jam tangannya, sudah menunjukkan jam 08.00 malam. Lalu Definapun pamit pulang.
Defina: aku pulang ya Wan, tak baik rasanya seorang wanita yang masih bersuami dan seorang laki2 yang beristri duduk lama2 bersama di sini lewat jam 7 malam,
aku tahu pasti kau memahami hal itu
Nirwan: sebenarnya aku masih ingin berbincang denganmu… tapi sudah malam ya, tidak terlalu malam sebenarnya kalau kita masih muda dulu ya
Defina: hus!, ingat sama status kita masing2 Wan, kau tak menyadari sosok2 yang duduk di sebelah kita yang entah berapa kali mencuri pandang kepada kita, mereka seperti melihat seorang om dan tante bertemu, hehehehe,
Nirwan: bagi mereka kita adalah sepasang kekasih lama yang bertemu, biarkan saja mereka berpikiran seperti itu
Defina: ada2 ada saja kau Wan, terima kasih telah mentraktirku dan pertemuan ini membuat aku menemukan semangat hidupku sendiri, aku kini tak takut lagi hidup sendirian, lalu jangan lupa ya Wan, rencana itu, jika kau memang butuh bantuanku
untuk melakukan kegiatan2 apa saja di kota ini, kontak2 aku saja, aku butuh kegiatan untuk mengisi waktu luangku, karena Reynold tak memberiku kesempatan untuk membantu bisnisnya walaupun aku sudah berulangkali memintanya, entah kenapa, tapi dengan satu syarat ya…
Nirwan: apa syaratnya?
Defina: Arnita harus mengetahui bahwa kau memiliki sahabat bernama Defina di kota ini dan kita mempunyai hubungan kerja atau apalah namanya itu, walaupun dia tak perlu tahu bahwa kita pernah memiliki hubungan dan kenangan indah di masa lalu, karena aku khawatir hal-hal yang kurang baik bisa terjadi nanti jika kau merahasiakan hal ini dari istrimu, dan kau juga harus berjanji padaku bahwa kau akan memperlakukan aku sebagai sahabat dan mitra kerja, bukan sebagai Defina yang pernah hadir dalam hidupmu dulu, jika kau tak sanggup dengan syarat itu, maka kita tak perlu bertemu lagi, aku tak mau merasa bersalah kepada Reynold karena seburuk apapun dia tetap suamiku dan kau juga tak merasa berdosa pada Arnita, bagaimana, kesepakatan yang adil buat kita berdua kan?,
Nirwan: aku setuju, jika itu bisa membahagiakanmu dan semua itu tidak akan merubah hal apapun yang ada disekeliling kita.
Defina: pasti itu, semoga perjalananmu besok pagi ke Jakarta aman2 saja ya, oh ya sebentar, (lalu Defina melambaikan tangannya kepada waiters yang membawa bungkusan berisi penganan khas Bandung beraneka ragam), ini aku bawakan sekedar oleh2 untuk keluargamu di Jakarta, tadi saat kau shalat maghrib aku minta mas ini membelikan oleh2 ini, karena kau telah mentraktirku di sini entah berapa gelas coffe dan juice kita minum ya dan pastry yang kita makan rasanya sudah lebih dari cukup untuk mengganti makan malam kita, aku mau titip oleh2 untuk Arnita dan anak2mu, bilang saja dari kawan lamamu, suatu saat kalau aku ke Jakarta aku ingin bertemu dengan Arnita dan anak2mu ya Wan,
Nirwan: terima kasih Fina, kau juga hati2 di jalan, yakin kita tidak makan malam dulu?
Defina: Wan, sebenarnya aku ingin mengajakmu makan malam saat ini, tapi lalu aku
sadar kita harus membatasi diri pada pertemuan ini, kau pasti paham kan Wan, lagipula di rumah pembantuku pasti sudah memasak makan malam untukku dan kau sendiri pasti makan malam di hotel atau di sekitar sini, jika kita pergi lagi untuk makan malam bersama dan setelah itu…., aku takut Wan, kita harus menjaga diri kita dan menghargai perasaan pasangan hidup kita masing2, ya kan?.
Nirwan: baiklah kalau begitu, selamat malam Fina, hati2 di jalan ya.
Setelah membayar bills, Nirwan mengantarkan Defina sampai di tempat parkir, lalu Defina berlalu dengan kendaraan yang dia kemudikan sendiri, Nirwanpun lalu menyusuri sepanjang Jalan Braga untuk mencari makan malam mampir ke sebuah restoran cepat saji dan memesan makan malam, dia kemudian menyantap pesanannya, setelah itu Nirwan meninggalkan restoran itu kembali berjalan menuju hotelnya, sesampainya di lobby hotelnya dia menuju receiptionist dan mengambil kunci kamar yang dititipkannya, kemudian berjalan menuju lift lalu memasuki kamarnya, Nirwanpun bersiap untuk tidur malam itu.
Sebelum tertidur Nirwan mengenang pertemuan tadi; Rendevouz yang menyenangkan dan penuh kenangan, tapi Defina adalah masa lalu dalam hidupku dan saat ini dia telah menjelma menjadi sahabatku sama seperti sahabat2ku lainnya, jika aku masih berpikir seperti di masa lalu maka aku akan menghancurkan hidupku sendiri, dan saat ini aku harus melanjutkan hidupku dan besok aku kembali kepada keluargaku, ke tengah2 istriku dan anak2ku, guman Nirwan sebelum kemudian rasa kantuk yang hebat menerjangnya.
Dan Nirwanpun tertidur lelap malam itu.….
Thursday, May 28, 2009
Happiness is in your hand…

“Not what you have, but what you see; Not what you see, but what you choose; Not what seems fair, but what is true; Not what you dream, but what you do; Not what you take, but what you give; Not as you pray, but as you live. These are the things that mar or bless The sum of human happiness.” – unknown source
Mungkin seringnya kita sebagai manusia menjalani kehidupan ini, bukan berdasarkan apa yang pada dasarnya harus ditentukan oleh diri kita sendiri. Baik itu sebagai standar, strategi, ekspresi maupun yang terbaik yang dapat dirasakan oleh diri sendiri.
Begitu banyak hal yang kita jalani, baik disadari ataupun tidak disadari adalah ‘bukan’ diri kita sendiri. Kita berjalan berdasarkan apa yang orang lihat, apa yang pihak lain inginkan, hal yang berhubungan dengan pendapat orang lain. Dan lain sebagainya, yang begitu kita yakini bahwa apa yang orang lihat di kita, jika menurut mereka baik, maka baik lah untuk diri kita. Lalu, jika sudah demikian… diri kita layaknya ‘alien’ hidup yang berjalan, yang merasa dan mengalami kebahagiaan-kebahagiaan semu.
Kebahagiaan yang sejatinya, sebenar-benarnya bukanlah milik kita sepenuhnya. Tidak 100% apalagi 50%. Justru yang kebahagiaan yang kita jalani adalah milik orang-orang di sekeliling kita yang begitu menentukan bagi diri kita sendiri.
Mungkin kita terlalu takut untuk berjuang dan memiliki kebahagiaan diri kita yang sejati. Takut akan pendapat, pandangan atau bahkan pikiran yang berujung pada perbuatan-perbuatan orang lain pada diri kita. Kita menjadi takut untuk berdiri dengan teguh di kaki kita sendiri. Semua hal yang kita lakukan berdasarkan topangan dari pandangan positif atau berdasarkan cemoohan atau pergunjingan yang keluar dari pihak-pihak lain.
Kebahagiaan sejatinya ada dalam diri kita sendiri. Jika bukan ada di tangan kita, siapa lagi yang paling mengetahui apa yang membuat kita bahagia. Bahagia adalah bersyukur…bukan meributkan apa yang sudah atau belum kita miliki. Kebahagiaan adalah bagaimana kita mengatur cara pandang kita terhadap apa yang telah kita miliki sekarang. Menjadikannya begitu berharga dan berarti.
Kebahagiaan, bukanlah apa impian-impianmu atau apa isi doa-doamu setiap malam kepada Yang ESA. Namun, beyond on those things…kebahagiaan adalah apa yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan impian-impian dalam kehidupan kita ini, yang terangkum dalam alunan indahnya sebuah doa yang disampaikan setiap malamnya…atau bahkan setiap nafas yang kita hembuskan.
Apa yang kita bisa beri, dari kekurangan yang kita miliki, sehingga membuat orang lain atau pihak lain begitu merasa dihargai, dihormati, disayangi, dan diperhatikan…menjadikan sesama merasa “ADA”.
Kebahagiaan bukan ditangan orang tua kita, bukan ditangan saudara kita, bukan ditangan sahabat kita, bukan ditangan anak kita, bukan ditangan suami atau istri kita. Kebahagiaan ada di tangan kita sendiri. Usaha untuk menyingkapi kebahagiaan sejati itulah yang memerlukan usaha cukup keras dan tidak mudah.
Maka, pada akhirnya pun semua kembali pada diri kita sendiri. Apakah kita sudah siap…sudah mantap…dan sudah pada waktu yang tepat untuk mengejar dan mengalami kebahagiaan diri sendiri…
Jangan berputus asa…bergerak maju, dan hiduplah pada jalan bahagia itu sendiri!
Semoga meng-inspirasi…
- am-
------------------------------
dikutip dari:
Happiness is in your hand…
by Afra Mayriani, 2009
source: http://www.aframayriani.wordpress.com/2009/02/13/happiness-is-in-your-hand/
Labels:
Inspiring Articles
Wednesday, April 08, 2009
Perubahan itupun akhirnya dimulai...
Dear all....
Menyambung ke diskusi2 sebelumnya tentang hal2 yg menjadi masalah internal NGO's yang dalam pandangan saya pribadi sudah dalam tahap kritis untuk dibenahi, saya mau kasih kabar, di tempat saya bekerja saat ini saya mengusulkan sebuah project change management menyeluruh, dalam beberapa bulan ke depan kita akan kocok ulang team dengan sistem dan herarki organisasi yang valid dan professional dengan tahap awal mengidentifikasi kembali kompetensi dan kualifikasi SDM, sebagai berikut:
1. Latar belakang pendidikan akan jadi dasar utama rekrutmen dan re-format ulang posisi dan jabatan pekerjaan, misalnya:
a. jika dulu seorang sarjana kesehatan masyarakat bisa menjadi staf keuangan maka mulai saat ini staff keuangan haruslah seseorang berlatarbelakang S1 akuntansi
b. Pelaksana proyek air bersih yang sebelumnya bisa di isi orang dengan latarbelakang pendidikan apa saja, mulai saat ini haruslah seorang berlatarbelakang teknik sipil atau teknik lingkungan dengan asistensi support dari team program kesehatan yang dulunya diisi sarjana sosiologi dan ilmu politik, maka mulai saat ini harus di isi oleh sarjana kesehatan masyarakat dan paramedis.
2. Dibuat grading berdasarkan faktor usia untuk setiap grade jabatan, agar dapat menghilangkan hambatan psikologis dan mencapai performance yang optimum bagi penyandang jabatan tersebut. (kan tidak mungkin juga koordinator program berusia 30 tahun mensupervisi officer program berusia 50 tahun sudah gitu latarbelakang pendidikannya gak nyambung)
3. Attitude, mindset, serta komitmen thd tugas dan pekerjaan NGO's akan menjadi pertimbangan utama dalam proses rekrutmen dan kocok ulang pegawai, jika mau jadi pegawai NGO's harus siap naik truk tentara, menginap di tenda, meeting di balai desa atau balai warga, blasak-blusuk di kampung dan pedalaman, serta makan di warung nasi pinggir jalan paling top McD atau KFC. Dalam kondisi normal dan budget memadai organisasi memberikan benefit ini tapi tidak wajib dan tergantung si-konnya. Jika pegawai keberatan dengan pra-kondisi ini, dan maunya menginap di hotel bintang 3, ikut seminar di convention hall, makan di dapur sunda, dan naik mobil operasional ber AC melulu, maka sebaiknya orang itu melamar kerja ke perusahaan minyak saja.
Tak akan ada lagi pegawai yg ngedumel kenapa saya ditempatkan di losmen dan naik truk tentara saat emergency response, kenapa saya cuma naik lion air bukan garuda, kenapa uang makan cukup beli maksimal McD bukan makan siang di dapur sunda?, dll pertanyaan tak tahu malu lainnya. Jika staff yang diklaim telah berubah ini, masih berani bertanya dan menggugat hal ini lagi maka Surat Peringatan akan
melayang ke meja masing2 krn mrk sudah menandatangani pakta komitmen sbg pekerja kemanusiaan, kalau masih mbalelo terpaksa di PHK. Rasanya malu sama donor dan penerima bantuan, apa kata mereka nanti, itu pegawai NGO's sudah bodoh, gak bisa kerja, gak punya perasaan, banyak lagunya lagi...
4. Sistem evaluasi kinerja memakai HR KPI akan diterapkan oleh setiap kepala unit dengan target goals yang jelas, sehingga saat di breakdown ke list things to do, semua orang sudah paham tugas, tanggungjawab, serta target kerjanya masing2.
5. Rekrutmen berbasis family relations akan dihilangkan, pegawai yang diketahui bersaudara akan dipilih hanya ditinggalkan satu orang saja yang memiliki kinerja terbaik. Akan dibuat pengecualiaan buat suami-istri yang menikah dan bekerja sebelum peraturan ini diterapkan dengan syarat mereka mencapai standard kompetensi serta bersedia ditempatkan di departemen yang berbeda dan kantor yang terpisah.
Survey membuktikan memboyong; adik, kakak, sepupu, keponakan, om, tante, bapak, ibu, oma, opa, dan opung kerja bareng2 akhirnya menjadikan NGO's sebagai paguyuban arisan keluarga, padahal NGO's ini bukan milik mbah buyut pegawai tersebut.
6. Accountability and transperancy akan menjadi rujukan utama dalam setiap proses procurement, recruitment, assessment project, distribusi bantuan, dan partnership dengan pihak manapun. Karena para donatur akan memantau hal ini dari waktu ke waktu.
7. Unit quality assurance dan internal control akan establish, sehingga dari waktu ke waktu proses monitoring internal akan terjadi dan akan selalu muncul preventive action, sehingga tidak perlu menunggu terjadinya kasus misuses baru bertindak tegas karena kalo ini terjadi biasanya berujung ke sanksi administratif yang menyakitkan bagi pegawai itu sendiri dan akan merusak citra organisasi pada akhirnya.
8. Manajemen akan berusaha menjadi professional dan tegas dalam melaksanakan setiap keputusan, capacity building SDM melalui training yang tepat sasaran (bukan untuk menghabiskan budget) akan dilakukan secara bertahap.
9. Continuous improvement akan menjadi motto organisasi untuk senantiasa memperbaiki dan berbenah diri dari waktu ke waktu, SOP akan direview dengan mengikuti paradigma konsep manajemen yang berkembang, sehingga pada akhirnya organisasi dapat mencapai visi dan misi mulia dari pendirian NGO's tersebut.
Sejujurnya, merubah mentalitas pegawai NGO's Indonesia shg mendapat citra buruk di pasar tenaga kerja sbg jenis SDM paling norak dan tidak berkualitas menjadi tantangan menarik tersendiri bagi saya dan teman2 manajemen di sini, kita mulai menghembuskan aura paradigm shifting ke seluruh staf secara bertahap, supaya tidak terjadi culture shock bagi para pekerja yang berseragam kaos, jeans dan
bersandal jepit ini.
Lalu seragam dirubah?, kalo ini gak usah paling kalo mau menghadiri meeting resmi dgn mitra kerja kita meminta staff berpakaian rapi dan sopan, tokh teman2 di dunia entertainment dan advertising juga seragamnya slengehan spt NGO's tapi mereka bisa professional.
Kami akan melakukan reformasi di tubuh NGO's, dengan melakukan follow up action di tempat masing2...!!!, bagaimana NGO's bisa melakukan sesuatu untuk dunia, kalo NGO's-nya sendiri punya masalah di dunia kecil mereka?
Kita akan memulai hal ini dari rumah sendiri, setelah itu baru bilang rumah orang lain tidak rapi, iya kan?, daripada capek2 menudingkan telunjuk ke muka orang, gak kerasa 4 jari tangan balik menuding diri sendiri, ya gak?
Wassalam
Kang Deni
Saksi sebuah on-going paradigm shifting di NGO's
Menyambung ke diskusi2 sebelumnya tentang hal2 yg menjadi masalah internal NGO's yang dalam pandangan saya pribadi sudah dalam tahap kritis untuk dibenahi, saya mau kasih kabar, di tempat saya bekerja saat ini saya mengusulkan sebuah project change management menyeluruh, dalam beberapa bulan ke depan kita akan kocok ulang team dengan sistem dan herarki organisasi yang valid dan professional dengan tahap awal mengidentifikasi kembali kompetensi dan kualifikasi SDM, sebagai berikut:
1. Latar belakang pendidikan akan jadi dasar utama rekrutmen dan re-format ulang posisi dan jabatan pekerjaan, misalnya:
a. jika dulu seorang sarjana kesehatan masyarakat bisa menjadi staf keuangan maka mulai saat ini staff keuangan haruslah seseorang berlatarbelakang S1 akuntansi
b. Pelaksana proyek air bersih yang sebelumnya bisa di isi orang dengan latarbelakang pendidikan apa saja, mulai saat ini haruslah seorang berlatarbelakang teknik sipil atau teknik lingkungan dengan asistensi support dari team program kesehatan yang dulunya diisi sarjana sosiologi dan ilmu politik, maka mulai saat ini harus di isi oleh sarjana kesehatan masyarakat dan paramedis.
2. Dibuat grading berdasarkan faktor usia untuk setiap grade jabatan, agar dapat menghilangkan hambatan psikologis dan mencapai performance yang optimum bagi penyandang jabatan tersebut. (kan tidak mungkin juga koordinator program berusia 30 tahun mensupervisi officer program berusia 50 tahun sudah gitu latarbelakang pendidikannya gak nyambung)
3. Attitude, mindset, serta komitmen thd tugas dan pekerjaan NGO's akan menjadi pertimbangan utama dalam proses rekrutmen dan kocok ulang pegawai, jika mau jadi pegawai NGO's harus siap naik truk tentara, menginap di tenda, meeting di balai desa atau balai warga, blasak-blusuk di kampung dan pedalaman, serta makan di warung nasi pinggir jalan paling top McD atau KFC. Dalam kondisi normal dan budget memadai organisasi memberikan benefit ini tapi tidak wajib dan tergantung si-konnya. Jika pegawai keberatan dengan pra-kondisi ini, dan maunya menginap di hotel bintang 3, ikut seminar di convention hall, makan di dapur sunda, dan naik mobil operasional ber AC melulu, maka sebaiknya orang itu melamar kerja ke perusahaan minyak saja.
Tak akan ada lagi pegawai yg ngedumel kenapa saya ditempatkan di losmen dan naik truk tentara saat emergency response, kenapa saya cuma naik lion air bukan garuda, kenapa uang makan cukup beli maksimal McD bukan makan siang di dapur sunda?, dll pertanyaan tak tahu malu lainnya. Jika staff yang diklaim telah berubah ini, masih berani bertanya dan menggugat hal ini lagi maka Surat Peringatan akan
melayang ke meja masing2 krn mrk sudah menandatangani pakta komitmen sbg pekerja kemanusiaan, kalau masih mbalelo terpaksa di PHK. Rasanya malu sama donor dan penerima bantuan, apa kata mereka nanti, itu pegawai NGO's sudah bodoh, gak bisa kerja, gak punya perasaan, banyak lagunya lagi...
4. Sistem evaluasi kinerja memakai HR KPI akan diterapkan oleh setiap kepala unit dengan target goals yang jelas, sehingga saat di breakdown ke list things to do, semua orang sudah paham tugas, tanggungjawab, serta target kerjanya masing2.
5. Rekrutmen berbasis family relations akan dihilangkan, pegawai yang diketahui bersaudara akan dipilih hanya ditinggalkan satu orang saja yang memiliki kinerja terbaik. Akan dibuat pengecualiaan buat suami-istri yang menikah dan bekerja sebelum peraturan ini diterapkan dengan syarat mereka mencapai standard kompetensi serta bersedia ditempatkan di departemen yang berbeda dan kantor yang terpisah.
Survey membuktikan memboyong; adik, kakak, sepupu, keponakan, om, tante, bapak, ibu, oma, opa, dan opung kerja bareng2 akhirnya menjadikan NGO's sebagai paguyuban arisan keluarga, padahal NGO's ini bukan milik mbah buyut pegawai tersebut.
6. Accountability and transperancy akan menjadi rujukan utama dalam setiap proses procurement, recruitment, assessment project, distribusi bantuan, dan partnership dengan pihak manapun. Karena para donatur akan memantau hal ini dari waktu ke waktu.
7. Unit quality assurance dan internal control akan establish, sehingga dari waktu ke waktu proses monitoring internal akan terjadi dan akan selalu muncul preventive action, sehingga tidak perlu menunggu terjadinya kasus misuses baru bertindak tegas karena kalo ini terjadi biasanya berujung ke sanksi administratif yang menyakitkan bagi pegawai itu sendiri dan akan merusak citra organisasi pada akhirnya.
8. Manajemen akan berusaha menjadi professional dan tegas dalam melaksanakan setiap keputusan, capacity building SDM melalui training yang tepat sasaran (bukan untuk menghabiskan budget) akan dilakukan secara bertahap.
9. Continuous improvement akan menjadi motto organisasi untuk senantiasa memperbaiki dan berbenah diri dari waktu ke waktu, SOP akan direview dengan mengikuti paradigma konsep manajemen yang berkembang, sehingga pada akhirnya organisasi dapat mencapai visi dan misi mulia dari pendirian NGO's tersebut.
Sejujurnya, merubah mentalitas pegawai NGO's Indonesia shg mendapat citra buruk di pasar tenaga kerja sbg jenis SDM paling norak dan tidak berkualitas menjadi tantangan menarik tersendiri bagi saya dan teman2 manajemen di sini, kita mulai menghembuskan aura paradigm shifting ke seluruh staf secara bertahap, supaya tidak terjadi culture shock bagi para pekerja yang berseragam kaos, jeans dan
bersandal jepit ini.
Lalu seragam dirubah?, kalo ini gak usah paling kalo mau menghadiri meeting resmi dgn mitra kerja kita meminta staff berpakaian rapi dan sopan, tokh teman2 di dunia entertainment dan advertising juga seragamnya slengehan spt NGO's tapi mereka bisa professional.
Kami akan melakukan reformasi di tubuh NGO's, dengan melakukan follow up action di tempat masing2...!!!, bagaimana NGO's bisa melakukan sesuatu untuk dunia, kalo NGO's-nya sendiri punya masalah di dunia kecil mereka?
Kita akan memulai hal ini dari rumah sendiri, setelah itu baru bilang rumah orang lain tidak rapi, iya kan?, daripada capek2 menudingkan telunjuk ke muka orang, gak kerasa 4 jari tangan balik menuding diri sendiri, ya gak?
Wassalam
Kang Deni
Saksi sebuah on-going paradigm shifting di NGO's
Labels:
Humanitarian World's
Tuesday, March 17, 2009
The Truth Is Never Lies... (part 1)
Dear All,
Hari ini saya berpikir dan merenung sambil instropeksi diri, menyimak hal2 yang terjadi begitu cepat dan tak terduga dalam 1 bulan terakhir ini ditempat kerja. Sebuah perubahan mulai terjadi sangat signifikan, sistem yang pernah membuat perasaan frustasi akhirnya menunjukkan jati dirinya: kepentingan organisasi sesuai visi dan misi yang diamanahkan adalah diatas segala kepentingan yang berada di sini.
Jika anda menyimak posting2 saya sebelumnya, anda pasti bisa memahami dan mengerti betapa rapuhnya say amenghadapi semua ketidakpastian hingga berkesimpulan; i will leaving after 31 March 2009, kembali ke dunia profesi yang lama atau berwirausaha, pekerjaan ini rasanya sudah tidak sesuai dengan nilai universal yang diembannya. Adalah dosa jika kita tetap berada disebuah tempat yang sudah keluar dari konteksnya, dan Rasulullah sendiri memberikan opsi kepada pengikutnya untuk berhijrah mencari tempat yang lebih baik dan aman jika kondisi sulit atau menyulitkan terjadi dalam hidup kita.
Saya sangat berterima kasih sekali kepada Tuhan, yang menggenapkan cobaanNya sebatas kemampuan umatNya, suatu malam menjelang malam iedul qurban akhir tahun lalu saya berdoa dan menangis bersimpuh di hadapanNya, "Ya Allah, aku sudah tidak sanggup lagi menanggung semua beban ini, aku tak sanggup menghadapi suasana yang membingungkan ini, aku hanya seorang hamba yang lemah, manusia yang hina dan dina, ampuni hamabamu ini yang kadang melupakan diriMU ya Robbi, dan kemudian bersimpuh sebagai manusia cengeng saat menghadapi masalah berat, ampuni yang Allah diriku, dan aku memohon Ya Allah berikan diriku kekuatan dan petunjukMu agar aku tetap berada dijalan yang seharusnya aku tempuh, aku berjanji untuk tetap konsisten dengan sikap2ku sesuai petunjukMu, seberat apapun cobaan yang datang kepadaku"
Tak terasa doa pengharapan yang singkat itu tak bisa diteruskan, karena entah kenapa, tiba2 saya menangis sekeras2nya, saya malam itu mengadu kepada Tuhan, disaksikan keheningan malam dan tak ada siapapun di rumah yang mengetahui kerapuhan jiwa saya malam itu. Saya tidak meminta apa2 kepada Allah kecuali diberikan kekuatan, dan yang pasti setelah pengaduan itu, saya tertidur dengan tenang dan besoknya pikiran terasa terang dan lebih percaya diri, inilah bantuan Tuhan yang rupanya tidak saya sadari mulai bekerja mulai keesokan harinya itu.
Seminggu setelah itu ada sebuah meeting lucu2an di kantor, tapi saya bisa menghadapinya dengan tenang, lalu beberapa hal yang rasanya bernuansa office politics sekali selama bulan Januari - Februari ini, sayapun bisa menghadapinya dengan tenang, luarbiasa rasanya melihat diri ini bisa sedikit arif dan bijak menghadapi situasi2 yang tidak menguntungkan secara psikologis, Alhamdulillah Allah menebalkan benteng kesabaran saya menghadapi sarkasme2 yang tidak perlu didengarkan sebenarnya.
Lalu, perlahan tapi pasti kebeneranan mulai muncul, orang2 yang entah kenapa begitu membencinya saya membuat berbagai laporan buruk tertulis tentang saya, dan di saat yang bersamaan datang seorang teman kerja dari Afrika yang kemudian banyak membantu saya dengan memberikan nasihat2 dan saran2 yang menyejukkan pikiran dan juga membuat saya menemukan solusi2 untuk mengatasi masalah yang ada. Karena jujur aja, gak mudah mensupervisi orang2 yang lebih tua dari kita apalagi kalau mereka merasa otoritas ketuaan mereka terganggu oleh anak kemarin sore seperti saya. Professional berumur yang jelouse itu unik2 lucu kalo diamati, mereka hobby menyindir dan melemparkan satire, dan kita yang lebih muda tidak bisa serta merta mengcounternya dengan hal serupa, pekerja berumur ternyata sulit menerima leadership dari orang yang jauh lebih muda dari mereka, saya baca ini ini literatur how to managing the oldiest employee. puyeng ya... :)
So far kondisi mulai membaik, kalau dibilang ada badai, mungkin badainya sudah mulai mereda, Alhamdulillah saya lebih comfortable sekarang...
Wassalam
Kang Deni
Hari ini saya berpikir dan merenung sambil instropeksi diri, menyimak hal2 yang terjadi begitu cepat dan tak terduga dalam 1 bulan terakhir ini ditempat kerja. Sebuah perubahan mulai terjadi sangat signifikan, sistem yang pernah membuat perasaan frustasi akhirnya menunjukkan jati dirinya: kepentingan organisasi sesuai visi dan misi yang diamanahkan adalah diatas segala kepentingan yang berada di sini.
Jika anda menyimak posting2 saya sebelumnya, anda pasti bisa memahami dan mengerti betapa rapuhnya say amenghadapi semua ketidakpastian hingga berkesimpulan; i will leaving after 31 March 2009, kembali ke dunia profesi yang lama atau berwirausaha, pekerjaan ini rasanya sudah tidak sesuai dengan nilai universal yang diembannya. Adalah dosa jika kita tetap berada disebuah tempat yang sudah keluar dari konteksnya, dan Rasulullah sendiri memberikan opsi kepada pengikutnya untuk berhijrah mencari tempat yang lebih baik dan aman jika kondisi sulit atau menyulitkan terjadi dalam hidup kita.
Saya sangat berterima kasih sekali kepada Tuhan, yang menggenapkan cobaanNya sebatas kemampuan umatNya, suatu malam menjelang malam iedul qurban akhir tahun lalu saya berdoa dan menangis bersimpuh di hadapanNya, "Ya Allah, aku sudah tidak sanggup lagi menanggung semua beban ini, aku tak sanggup menghadapi suasana yang membingungkan ini, aku hanya seorang hamba yang lemah, manusia yang hina dan dina, ampuni hamabamu ini yang kadang melupakan diriMU ya Robbi, dan kemudian bersimpuh sebagai manusia cengeng saat menghadapi masalah berat, ampuni yang Allah diriku, dan aku memohon Ya Allah berikan diriku kekuatan dan petunjukMu agar aku tetap berada dijalan yang seharusnya aku tempuh, aku berjanji untuk tetap konsisten dengan sikap2ku sesuai petunjukMu, seberat apapun cobaan yang datang kepadaku"
Tak terasa doa pengharapan yang singkat itu tak bisa diteruskan, karena entah kenapa, tiba2 saya menangis sekeras2nya, saya malam itu mengadu kepada Tuhan, disaksikan keheningan malam dan tak ada siapapun di rumah yang mengetahui kerapuhan jiwa saya malam itu. Saya tidak meminta apa2 kepada Allah kecuali diberikan kekuatan, dan yang pasti setelah pengaduan itu, saya tertidur dengan tenang dan besoknya pikiran terasa terang dan lebih percaya diri, inilah bantuan Tuhan yang rupanya tidak saya sadari mulai bekerja mulai keesokan harinya itu.
Seminggu setelah itu ada sebuah meeting lucu2an di kantor, tapi saya bisa menghadapinya dengan tenang, lalu beberapa hal yang rasanya bernuansa office politics sekali selama bulan Januari - Februari ini, sayapun bisa menghadapinya dengan tenang, luarbiasa rasanya melihat diri ini bisa sedikit arif dan bijak menghadapi situasi2 yang tidak menguntungkan secara psikologis, Alhamdulillah Allah menebalkan benteng kesabaran saya menghadapi sarkasme2 yang tidak perlu didengarkan sebenarnya.
Lalu, perlahan tapi pasti kebeneranan mulai muncul, orang2 yang entah kenapa begitu membencinya saya membuat berbagai laporan buruk tertulis tentang saya, dan di saat yang bersamaan datang seorang teman kerja dari Afrika yang kemudian banyak membantu saya dengan memberikan nasihat2 dan saran2 yang menyejukkan pikiran dan juga membuat saya menemukan solusi2 untuk mengatasi masalah yang ada. Karena jujur aja, gak mudah mensupervisi orang2 yang lebih tua dari kita apalagi kalau mereka merasa otoritas ketuaan mereka terganggu oleh anak kemarin sore seperti saya. Professional berumur yang jelouse itu unik2 lucu kalo diamati, mereka hobby menyindir dan melemparkan satire, dan kita yang lebih muda tidak bisa serta merta mengcounternya dengan hal serupa, pekerja berumur ternyata sulit menerima leadership dari orang yang jauh lebih muda dari mereka, saya baca ini ini literatur how to managing the oldiest employee. puyeng ya... :)
So far kondisi mulai membaik, kalau dibilang ada badai, mungkin badainya sudah mulai mereda, Alhamdulillah saya lebih comfortable sekarang...
Wassalam
Kang Deni
Wednesday, February 25, 2009
Pemuda Indonesia...
Dalam sebuah acara pembukaan konferensi pemuda internasional, panitia memperkenalkan setiap delegasi dan secara spontan mengomentari penampilan fisik dan busana mereka...
Giliran pertama delegasi dari Jepang
MC: luar biasa, saat kita semua berpikir ttg Jepang, kita semua mengira akan berdiri sekelompok pemuda berpakaian khas ala kutu buku dan ilmuwan, tapi kalian tampil spt tokoh film animate, berani tampil beda....!!!, peserta memberikan applaus yg meriah
Giliran kedua delegasi dari China
MC: luar biasa, kalian mengingatkan saya kpd film kungfu dan barongsay, penampilan kalian ethnical sekali....!!! peserta memberikan applaus yg meriah
Giliran ketiga delegasi dari Arab Saudi
MC: luar biasa, kawan2 inilah calon2 seikh dan raja minyak masa depan...!!!, peserta memberikan applaus yg meriah
Giliran keempat delegasi dari Perancis
MC: luar biasa, seperti melihat para top model dunia hadir di sini...!!! peserta memberikan applaus yg meriah
Giliran kelima delegasi dari Indonesia
MC: Bapak2 mohon maaf, kami mempersilahkan delegasi pemuda Indonesia untuk berdiri, bukan perwakilan Kedubes Indonesia
Ketua Delegasi Indonesia (kesal): Mas, kamilah delegasi pemuda Indonesia...
MC: ???@@@!!!** (sambil geleng2 kepala berkata dalam hati: apakah bangsa ini dikutuk Tuhan sampai2 para pemudanya tampak seperti orangtua?)
----------------
by: Kang Deni
http://www.deni-ds.com
Giliran pertama delegasi dari Jepang
MC: luar biasa, saat kita semua berpikir ttg Jepang, kita semua mengira akan berdiri sekelompok pemuda berpakaian khas ala kutu buku dan ilmuwan, tapi kalian tampil spt tokoh film animate, berani tampil beda....!!!, peserta memberikan applaus yg meriah
Giliran kedua delegasi dari China
MC: luar biasa, kalian mengingatkan saya kpd film kungfu dan barongsay, penampilan kalian ethnical sekali....!!! peserta memberikan applaus yg meriah
Giliran ketiga delegasi dari Arab Saudi
MC: luar biasa, kawan2 inilah calon2 seikh dan raja minyak masa depan...!!!, peserta memberikan applaus yg meriah
Giliran keempat delegasi dari Perancis
MC: luar biasa, seperti melihat para top model dunia hadir di sini...!!! peserta memberikan applaus yg meriah
Giliran kelima delegasi dari Indonesia
MC: Bapak2 mohon maaf, kami mempersilahkan delegasi pemuda Indonesia untuk berdiri, bukan perwakilan Kedubes Indonesia
Ketua Delegasi Indonesia (kesal): Mas, kamilah delegasi pemuda Indonesia...
MC: ???@@@!!!** (sambil geleng2 kepala berkata dalam hati: apakah bangsa ini dikutuk Tuhan sampai2 para pemudanya tampak seperti orangtua?)
----------------
by: Kang Deni
http://www.deni-ds.com
Wednesday, February 18, 2009
Dibuat Gampang Aja...
Dalam sebuah pelatihan manajemen mutu ISO 9001 - 2008, trainer menugaskan semua peserta membuat flowchart di tempat mereka bekerja. Setiap peserta diminta mengoreksi pendapat sebelumnya dan memberikan saran, tak terkecuali juga Dion yang saat itu ikut pelatihan tersebut.
Peserta dari bank: flowchart itu harus menjelaskan details tahapan kerja dan limit transaksinya (maklum bank)
Trainer: bagus, selanjutnya yang dari perusahaan minyak, silahkan...
Peserta dari perusahaan minyak: betul itu, tapi anda lupa memasukkan aspek keselamatan kerja, harus itu
Trainer: fokus pada keselamatan kerja ya mas, coba pendapat pegawai akuntan publik, bagaimana?
Peserta dari akuntan publik: anda berdua betul, tapi melupakan fungsi pemeriksaan untuk mencegah penyimpangan prosedur
Trainer: mentang2 akuntan publik, bawaannya curiga melulu, saya mau tahu pendapatnya orang yang bekerja di perusahaan Jepang, bagaimana?
Peserta dari perusahaan Jepang: kita harus menggunakan checklist dalam setiap proses pekerjaan, agar hal2 yang anda semua katakan bisa terlaksana
Trainer: luar biasa, semuanya saling melengkapi!, nah sekarang giliran pak Dion mengemukakan pendapat, silahkan…
Dion: menurut saya kalian ini complicated, proses kerja itu cuma bikin proposal, cek budget, belanja, distribusikan, selesai, gak perlu pake2 flowchart kayak begini, segala sesuatu itu dibuat gampang aja!
Trainer (agak kesal): maaf pak Dion, anda dari perusahaan atau institusi apa?
Dion: saya pegawai NGO's
Peserta lain dan Trainer(serempak): oooooo pegawai NGO's ya?... pantesan cuy!!!, (gubrak)
-----------------------------------
Copyright by Deni Danasenjaya, 2009
-----------------------------------
Peserta dari bank: flowchart itu harus menjelaskan details tahapan kerja dan limit transaksinya (maklum bank)
Trainer: bagus, selanjutnya yang dari perusahaan minyak, silahkan...
Peserta dari perusahaan minyak: betul itu, tapi anda lupa memasukkan aspek keselamatan kerja, harus itu
Trainer: fokus pada keselamatan kerja ya mas, coba pendapat pegawai akuntan publik, bagaimana?
Peserta dari akuntan publik: anda berdua betul, tapi melupakan fungsi pemeriksaan untuk mencegah penyimpangan prosedur
Trainer: mentang2 akuntan publik, bawaannya curiga melulu, saya mau tahu pendapatnya orang yang bekerja di perusahaan Jepang, bagaimana?
Peserta dari perusahaan Jepang: kita harus menggunakan checklist dalam setiap proses pekerjaan, agar hal2 yang anda semua katakan bisa terlaksana
Trainer: luar biasa, semuanya saling melengkapi!, nah sekarang giliran pak Dion mengemukakan pendapat, silahkan…
Dion: menurut saya kalian ini complicated, proses kerja itu cuma bikin proposal, cek budget, belanja, distribusikan, selesai, gak perlu pake2 flowchart kayak begini, segala sesuatu itu dibuat gampang aja!
Trainer (agak kesal): maaf pak Dion, anda dari perusahaan atau institusi apa?
Dion: saya pegawai NGO's
Peserta lain dan Trainer(serempak): oooooo pegawai NGO's ya?... pantesan cuy!!!, (gubrak)
-----------------------------------
Copyright by Deni Danasenjaya, 2009
-----------------------------------
Saturday, February 14, 2009
NGO's watch... adakah itu?

Dear All...
Sebagai pekerja NGO's, jujur saya sedih melihat praktek2 menyimpang di internal NGO's (ilustrasi berdasarkan realita), seperti:
1. Korupsi; Kang Adun memanipulasi laporan kegiatan proyek, menambah2i jumlah beneficiary program, mark up budget dll untuk keuntungan pribadi.
2. Kolusi; Kang Adun ditugaskan membuat proposal program bantuan, ada barang yg harus dibeli lewat tender, dibocorkan datanya ke rekanan kenalannya, pas di tender ya pasti menang, walaupun harganya sudah di mark up gak karuan.
3. Nepotisme rekrutmen; project manager kang Adun, maka program officer, bagian administrasi pembelian hingga supir diisi oleh saudara2 Kang Adun, padahal ini organisasi internasional bukan perusahaan milik mbah buyutnya Kang Adun.
Alhasil, 2 tahun bekerja sbg project manager NGO's yg bergaji 10 juta sebulan, Kang Adun bisa memiliki tabungan (mendekati) jumlah Rp. 1 milyar, 2 mobil baru, rumah baru dan (mungkin) kawin lagi berkat korupsi budget. Tak itu saja Kang Adun jadi pahlawan keluarga dan memperoleh "Family Award" karena berhasil memberantas pengangguran dgn mempekerjakan 5 saudaranya di kantor dan menitipkan 10 saudara2 lainnya di perusahaan2/mitra organisasi. Kang Adun juga menjadi figur yg disegani kalangan pengusaha krn kerap memberikan proyek yg menjanjikan keuntungan di atas 100%.
Akhirnya praktek menyimpang kang Adun diketahui Head Quarter di Eropa sana, lalu internal audit datang memeriksa kang Adun, terbukti sah melanggar dan dipecat secara tidak hormat. Head Quarter tidak berani melaporkan kang Adun ke polisi krn bisa merusak citra NGO's tsb di Indonesia, worldwide, dan juga (terutama) donor.
Kantor NGO's tsb akhirnya hanya bisa memecat Kang Adun dan 5 saudaranya serta menyita mobil pribadinya, itu saja....
Pasca pemecatan Kang Adun dan keluarganya, NGO's tsb beroperasi secara "accountable and transparent", tapi sayangnya tak lebih dari 1 tahun. Memasuki tahun kedua, kisah "sukses" kang Adun di "copy paste" pegawai2 lainnya, mereka menduplikasi aksi mencuri hak fakir miskin, anak yatim-piatu, dan korban bencana demi keuntungan pribadi sambil melakukan tugas2 kemanusiaan.
Kang Adun merasa sakit hati dan takut?
Kang Adun hidup bahagia bersama uang hasil rampokannya yg bisa bernilai puluhan juta, ratusan juta atau bisa jadi mencapai nilai milyaran rupiah selama 2 tahun bekerja, berdiam di suatu tempat, mungkin dia lagi baca blog saya sekarang.. hehehe... apa kabar kang Adun? :)
Kang Adun merasa berdosa?
Boro2!, lalu visi, misi, cita2 luhur organisasi untuk memberantas kemiskinan serta korban bencana, bagaimana donk?. "Mereka kan sudah dapat haknya, dibantu & dikasih gratis kok protes" demikian agrumentasinya, gak takut dosa?, "itu urusan saya dengan Tuhan" sahut kang Adun lagi.
Kurang professionalnya local management dan lemahnya pengawasan, serta tidak adanya law enforcement membuat lakon ini terjadi di kantor2 NGO's international yg beroperasi di Indonesia. Bagaimana kita semua menyikapi hal ini?, terus terang kami yg berusaha bekerja sesuai tugas menjalankan amanah donor untuk membantu sesama, merasa miris melihat hal2 ini dipertontonkan di depan mata kami oleh sesama saudara sebangsa dan setanah air di hadapan orang2 asing yg mewakili donor...
Adakah NGO's watch di Indonesia?, kami mau laporan nih...
(di intisarikan dari diskusi hati nurani via japri antar pekerja NGO's)
Wassalam
Kang Deni
http://www.deni-ds.com
Labels:
Humanitarian World's
Wednesday, February 11, 2009
Ketawa-ketiwi ala NGO's part 2
Tumben gak minta
Siska sore itu ditugaskan oleh Dion untuk berbelanja paket bantuan tambahan untuk korban banjir, setelah semua terbeli maka siska menemui kasir toko tersebut.
Siska: mbak tolong dipacking semua lalu dimasukkan ke dalam mobil di depan ya
Kasir: tentu mbak, maaf ini total tagihannya, ngomong2 mbak ini beli untuk apa kok banyak sekali?
Siska: untuk bantuan korban banjir, saya bekerja di NGO’s…..
Kasir : oooo, temannya pak Dion ya, beliau juga sering belanja di sini, (sambil menghitung di mesin kasir), ini totalnya mbak, ini bon asli dan ini bon kosong
Siska: (mengeluarkan uang) ini mbak, kok pake ngasih bon kosong segala buat apa?
Kasir: (kaget) tumben gak minta, temen mbak yg suka belanja di sini biasanya malah minta duluan
Siska: OMG...(!!!???)
------------------------------
Tamu Sok Borju
Sore itu Siska staff Dion menemani tamu dari kantor pusat untuk membeli oleh2 sebelum dia pulang ke negaranya.
Tamu: Dear Siska, saya dengar ada pusat grosir yang barangnya bagus2 dan murah, betul itu?, saya mau borong oleh2 untuk kawan2 di kantor pusat dan keluarga saya
Siska: betul boss, namanya Mangga Dua dan Tanah Abang
Tamu: kalo begitu mari kita ke sana sekarang
Lalu Siska, tamu dan driver kantor melaju menuju Mangga Dua untuk berbelanja, keliling2 Mangga Dua sampai pegal tak ada satupun barang yang dibeli.
Tamu: Siska, di sini barangnya jelek2 dan gak bagus, katanya pusat grosir terbesar kok begini saya kecewa, kalo yang satunya jauh lebih bagus atau sama saja?
Siska: ke Tanah Abang aja kalo begitu, mallnya masih baru jadi bisa nyaman belanja
Lalu mobil mereka menuju pusat grosir Tanah Abang yang masih gress bangunannya, mereka kembali berkeliling2 dari satu counter ke counter lainnya, tapi tetap saja tak ada baju yang cocok untuk dibeli.
Tamu: Siska, kamu bilang ini pusat grosir terbaru, terlengkap dan terbaik dibanding yang tadi, tapi sama saja dengan pasar kaget di Europe sana ini, ya sudah saya belanja di airport saja kalo begitu, mari kita pulang.
Saat keluar dari Tanah Abang, mereka melihat banyak pedagang kaki lima berjualan di depan pusat grosir Tanah Abang.
Tamu: Siska, ini pasar apa, kok ramai sekali?
Siska: itu istilah disini pedagang emperan alias PKL, barang yang dijual sebenarnya sama saja dengan yang di mall tapi jauh lebih murah harganya, mau lihat brother?
Tamu; yuk kita lihat, ini very unique market and very interesting!
Lalu mereka berhenti di pinggir jalan dan berkeliling2 melihat barang dagangan PKL, tamu Siska kemudian memborong begitu banyak pakaian di pedagang kaki lima untuk oleh2. Puas berbelanja merekapun kembali ke mobil .
Tamu: Siska, i'm very happy, its nice and great shopping!, you see?, barangnya bagus2, jahitan dan modelnya sempurna sekali, jauh lebih bagus dari yang di mall tadi
Siska nyengir (sambil ngedumel pake bahasa Jawa): perasaan barang yang dijual di mall Mangga Dua ama pusat grosir Tanah Abang sama aja dengan yang di jual disini, cuma di mall lebih mahal di PKL lebih murah, bilang aja gak mampu belanja di mall, pake sok dibilang mallnya gak mutu segala, dasar bule kere banyak lagu loe!!!
Supir: Gubrak!!!!, xixixixi, betul itu boss!! (pake bahasa Jawa juga)
----------------------------------
Copyright by Deni Danasenjaya, 2009
Siska sore itu ditugaskan oleh Dion untuk berbelanja paket bantuan tambahan untuk korban banjir, setelah semua terbeli maka siska menemui kasir toko tersebut.
Siska: mbak tolong dipacking semua lalu dimasukkan ke dalam mobil di depan ya
Kasir: tentu mbak, maaf ini total tagihannya, ngomong2 mbak ini beli untuk apa kok banyak sekali?
Siska: untuk bantuan korban banjir, saya bekerja di NGO’s…..
Kasir : oooo, temannya pak Dion ya, beliau juga sering belanja di sini, (sambil menghitung di mesin kasir), ini totalnya mbak, ini bon asli dan ini bon kosong
Siska: (mengeluarkan uang) ini mbak, kok pake ngasih bon kosong segala buat apa?
Kasir: (kaget) tumben gak minta, temen mbak yg suka belanja di sini biasanya malah minta duluan
Siska: OMG...(!!!???)
------------------------------
Tamu Sok Borju
Sore itu Siska staff Dion menemani tamu dari kantor pusat untuk membeli oleh2 sebelum dia pulang ke negaranya.
Tamu: Dear Siska, saya dengar ada pusat grosir yang barangnya bagus2 dan murah, betul itu?, saya mau borong oleh2 untuk kawan2 di kantor pusat dan keluarga saya
Siska: betul boss, namanya Mangga Dua dan Tanah Abang
Tamu: kalo begitu mari kita ke sana sekarang
Lalu Siska, tamu dan driver kantor melaju menuju Mangga Dua untuk berbelanja, keliling2 Mangga Dua sampai pegal tak ada satupun barang yang dibeli.
Tamu: Siska, di sini barangnya jelek2 dan gak bagus, katanya pusat grosir terbesar kok begini saya kecewa, kalo yang satunya jauh lebih bagus atau sama saja?
Siska: ke Tanah Abang aja kalo begitu, mallnya masih baru jadi bisa nyaman belanja
Lalu mobil mereka menuju pusat grosir Tanah Abang yang masih gress bangunannya, mereka kembali berkeliling2 dari satu counter ke counter lainnya, tapi tetap saja tak ada baju yang cocok untuk dibeli.
Tamu: Siska, kamu bilang ini pusat grosir terbaru, terlengkap dan terbaik dibanding yang tadi, tapi sama saja dengan pasar kaget di Europe sana ini, ya sudah saya belanja di airport saja kalo begitu, mari kita pulang.
Saat keluar dari Tanah Abang, mereka melihat banyak pedagang kaki lima berjualan di depan pusat grosir Tanah Abang.
Tamu: Siska, ini pasar apa, kok ramai sekali?
Siska: itu istilah disini pedagang emperan alias PKL, barang yang dijual sebenarnya sama saja dengan yang di mall tapi jauh lebih murah harganya, mau lihat brother?
Tamu; yuk kita lihat, ini very unique market and very interesting!
Lalu mereka berhenti di pinggir jalan dan berkeliling2 melihat barang dagangan PKL, tamu Siska kemudian memborong begitu banyak pakaian di pedagang kaki lima untuk oleh2. Puas berbelanja merekapun kembali ke mobil .
Tamu: Siska, i'm very happy, its nice and great shopping!, you see?, barangnya bagus2, jahitan dan modelnya sempurna sekali, jauh lebih bagus dari yang di mall tadi
Siska nyengir (sambil ngedumel pake bahasa Jawa): perasaan barang yang dijual di mall Mangga Dua ama pusat grosir Tanah Abang sama aja dengan yang di jual disini, cuma di mall lebih mahal di PKL lebih murah, bilang aja gak mampu belanja di mall, pake sok dibilang mallnya gak mutu segala, dasar bule kere banyak lagu loe!!!
Supir: Gubrak!!!!, xixixixi, betul itu boss!! (pake bahasa Jawa juga)
----------------------------------
Copyright by Deni Danasenjaya, 2009
Friday, February 06, 2009
muna itu...

Dear All...
Muna itu... Martai Uasih NAyang....
Muna itu... Martai Uita NAmua...
eh salah itu sih iklan kampanye di tipi ya...
Muna dalam kamus bahasa Indonesia adalah jargon populer dari munafik, istilah yang berasal dari bahasa Arab, mengutip definisi wikipedia; Munāfiq atau Munafik (kata benda, dari bahasa Arab: منافق, plural munāfiqūn) adalah terminologi dalam Islam untuk merujuk pada mereka yang berpura-pura mengikuti ajaran agama namun sebenarnya tidak mengakuinya dalam hatinya.Dalam ajaran Islam, terminologi ini merujuk pada mereka yang tidak beriman namun berpura-pura beriman.
Definisi munafik kemudian diperluas similar dengan inkonsistensi, Nabi Muhammad SAW mengatakan:"Tanda orang-orang munafik itu ada tiga keadaan. Pertama, apabila berkata-kata ia berdusta. Kedua, apabila berjanji ia mengingkari. Ketiga, apabila diberikan amanah (kepercayaan) ia mengkhianatinya" (HR. Bukhari dan Muslim).
POLITISI, BIANGNYA MUNA (?), ARE U SURE HUH?!
Dalam aplikasi sehari2, banyak gak kita ngeliat orang yg termasuk kelompok muna (maaf bukan maksud nyindir yang baca, xixixi), kayaknya so-so-lah, dalam tataran panggung politik munafik sepertinya sudah menjadi AD/ART organisasi, liat aja para caleg kita yang lagi sibuk2nya jual diri, eh salah, maksudnya kampanye:
1. Saya caleg beriman dari partai yang bersih dan peduli, gak taunya ke grebek satpol PP di Jambi saat ada razia panti pijet, gak tau beritanya?, klik detik.com dgn kata kunci: caleg terkena razia di panti pijat (tanda2 pertama, apabila berkata-kata ia berdusta.)
2. Kalo saya terpilih jadi caleg wilayah kabupaten ini, maka jalan2 yang rusak akan di aspal, kemiskinan akan turun dari 25% menjadi 10%, pilihlah saya, pas jadi anggota DPR boro2 inget janjinya, inget kampung dapilnya juga ngga (tanda2 Kedua, apabila berjanji ia mengingkari)
3. Karena ingin main sinetron di TransTV dengan judul telenovela Kumpulan kasus Korupsi, akhirnya terjerat kasus korupsi gara2 gak nahan liat digit 0 lebih dari 9 digit saat sidang fraksi atawa paripurna, padahal itu duit kan buat pembangunan fasilitas umum dan kepentingan rakyat dapat utangan dari World Bank atau ADB lagi, terus malah inget sama rumah di kampung yang masih butut, kasihan kan anak istri tinggal di rumah gubuk padahal abang ini anggota DPRD, kasihan kan sodara ane gak punya job padahal dia kontraktor, dikasih aja order, lumayan dah ada uang terima kasih 10 milyar, lumayan, di tangkep KPK akhirnya kena candid camera di hotel, xixixi, (tanda2 ketiga, apabila diberikan amanah (kepercayaan) ia mengkhianatinya)
Nah, kalo memang anda caleg atau calo pas baca blog ini, cobalah belajar menjadi calo, eh salah lagi, caleg yang anti kemunafikan, soalnya sedih juga dari ratusan entah ribuan baliho caleg parpol yg di pajang di jalan2, di facebook, di personal website, kok gak ada yang bilang; PILIHLAH SAYA, KARENA SAYA BUKAN CALEG MUNAFIK.....
KALO JADI ORANG BIASA, BOLEH MUNA GA?
Lalu kalo bukan caleg boleh munafik?, ya gak lah.... coba perhatikan di sekeliling kita, atau diri kita sendiri, suka ngibul bin omdo ga?, misalnya aja emang dari sononya kere ngaku borju biar dihargai orang, padahal orang menghargai kita bukan karena borjunya kata orang bijak, tapi dari hati dan perilakunya, kalo ada yang menilai kita krn penampilan itu mah cuma kesan pertama, selanjutnya tergantung attitude anda katanya :),
suka ngobral janji ga?, misalnya aja, pasti saya bantu anda, sekarang anda tolong saya, sehingga orang yg dijanji2-in surga itu mau bantu dengan ikhlas krn yakin di bantu atau dikasih sesuatu, begitu selesai, boro2 inget tuh sama orang yg bantu kita, ketemu aja menghindar misalnya, merasa ga?
suka gak amanah ga?, misalnya aja, di kasih kerjaan baik2, ada fasilitas kantor yg hanya boleh dipake buat kerjaan kantor, jelas di policy-nya tuh mobil kantor gak boleh di bawa pulang apalagi kalo di kasih plat merah, eh malah tiap hari nongkrong di rumah, padahal itu mobil di beli pake duit negara buat membantu tugas kantor, bukan antar jemput anak istri di rumah... ada ga yang baca punya kelakuan spt ini?, kalo ada, nyebut mas!, xixixi
Tanya kenapa....
Pembaca: Tumben kang Deni hari ini tulisannya sok bijaksana?
Ane: ini kan hari jum'at...
Pembaca: masa iya, ada motivasi lain kali?
Ane: iya deh ngaku...mmmm mau menebus dosa karena nyela2 kantor sendiri di thread posting sebelumnya
pembaca: dasar....
Kan enak jadi orang baik2.... sesekali nulis yang agak2 bijaksana gitu.... :)
Wassalam
Kang Deni
Baca2 dari:
- http://www.id.wikipedia.org/wiki/Munafik
- terinspirasi sama khutbah Jumat siang ini
- berita2 di detik.com
Subscribe to:
Posts (Atom)




