(Nguras Kolam Renang kaleeee!!!)
Bekerja menangani Procurement kata banyak orang yang masih "bernaluri primitif" adalah menyenangkan, bukan karena ketemu banyak orang atau sering kunjungan lapangan, tetapi ketemu banyak peluang untuk menciptakan "side income", "mendapat uang terima kasih", "voucher", "travelling gratis", bahkan "menolong saudara". Singkat kata bagian Procurement selalu identik dengan istilah tempat basah... wow, jangan ngeres dulu....hehehehe
Tapi itu kan kata orang lain.......
Kenyataannya?
Definisi moral menyatakan bahwa mendefinisikan pekerjaan Procurement sebagai pekerjaan basah adalah perbuatan dosa!, se-level & sederajat dengan kelakuan buruk yang saat ini dapat dipenjarakan, yaitu Korupsi, kolusi, & nepotisme. Bahkan pemerintahan negeri ini sampai membentuk lembaga bernama KPK untuk mengatasi dan memberantas korupsi.
Ada seorang teman yang jadi pengamat sosial mendefinisikan orang yang memandang posisi pekerjaannya untuk keuntungan pribadinya adalah perbuatan jahat dan jika komunitas lalu memujinya akibat keberhasilannya memanfaatkan pekerjaannya untuk meningkatkan jumlah asset dan saldo bank, maka orang itu dan komunitasnya termasuk kategori manusia yang bernaluri primitif, serem ya definisinya
Tetapi kenapa orang2 yang menangani Procurement selalu dianggap sebagai orang yang bisa memperoleh side income (yang konon haram) dari para rekanannya?, padahal tidak semua lho bagian Procurement bernaluri rendah seperti itu, ada juga bagian Procurement yang berusaha memegang teguh standar etika dan moral, serta bekerja sesuai job desk yang diberikan yaitu; mencari sourcing terbaik, berkualitas, dalam waktu singkat, berkelanjutan, serta dengan harga yang terbaik untuk organisasi, bahkan dalam job desk yang mulia itu ditambahkan klausula; salah satu KPI sang Procurement adalah jika dia bisa bernegosiasi dengan Vendor untuk memperoleh harga yang murah sehingga bisa menekan expense dan menghemat budget yang sudah di anggarkan, artinya; jika di budgetkan harga barang yang akan di beli 1 juta, maka sang Procurement dianggap sukses jika dia bisa memperoleh barang itu dengan harga di bawah 1 juta, kalo perlu dengan harga pabrik!
Lalu, benarkah dan haruskah bagian procurement menikmati "upeti" yang berlimpah ruah dari para rekanan atau calon supplier yang rajin membagi pelicin (jatuh donk kalau jalannya licin) serta berbagai bonus agar order terus datang?, beberapa mungkin berperilaku seperti itu, tapi banyak juga yang tetap menjaga komitmen, walau menangani kontrak milyaran rupiah perbulan, maka bagian Procurement seharusnya tidak silau dengan tawaran fee sekian % dari nilai kontrak, profit atau fee sharing dengan sales/rekanan, mengundang saudara dan kerabatnya menjadi supplier dll perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai bagian dari "naluri primitif para pendosa". Bahagiakah anda dengan side income seperti itu?, jika otak anda waras dan masih punya moral maka anda akan merasa tersiksa atau minimal merasakan kebahagiaan semu.
Hikayat Pendosa: Bagian Procurement Yang Melanggar Amanah
Saya mau bercerita sedikit, kutipan kisah nyata yang sering anda jumpai di lingkungan anda atau bahkan keluarga anda, yaitu jalan hidup orang2 yang menangani Procurement kemudian menyalahgunakan jabatannya untuk memperkaya diri dan melupakan job desk dan amanat organisasi dan perusahaan agar dia mencarikan sumber terbaik dengan harga termurah.
Sebutlah pak X (dia sudah almarhum sekarang), di era tahun 80-an pak X ini menjabat Kepala Bagian Pengadaan di sebuah BUMN terkemuka, saya saat itu masih kecil dan sering berkunjung ke rumah pak X karena dia masih kenalan dekat keluarga kami sudah mirip keluarga rasanya, rumahnya mewah, tanahnya di mana2, dan istri serta anak2nya dimanjakan dengan berbagai mode fashion terbaru hingga kendaraan terbaru, belakangan saya tahu bahwa semua kemewahan itu bukan berasal dari gaji dan bonus pak X, tapi tanda terima kasih dari Om2 yang suka berkunjung ke rumah atau menjamu keluarga pak X, karena berkat "bantuan dan pengertian" pak X mereka berhasil memenangkan tender dan dijadikan rekanan tetap, bahkan dengar punya dengan pa X juga mendapatkan jatah saham di beberapa perusahaan supplier tersebut.
Anak2 pak X ada yang sebaya dengan saya, ketika menginjak remaja alias ABG di era tahun 90-an, sesuatu yang menjadi fenomena yang wajar bagi para "penikmat uang haram" serta orang yang menyalahgunakan amanah terjadi, satu-persatu anak2 pak X menjadi tidak terkendali, ada yang hoby nyi-meng (menghisap ganja karena waktu itu belum ada Shabu2), ada yang kerjanya keluyuran malam, ada yang gonta-ganti pacar hingga bergelar MBA (Married By Accident), serta seabreg kelakuan buruk para ABG, dari sisi akademis anak2 pak X juga tidak ada yang mewarisi kualitas intelektual ayahnya, mereka ada yang putus sekolah bahkan DO kuliah!. Tak ada satupun anak2 pak X yang mengikuti keberhasilan karir ayahnya, beberapa anak sulung pak X yang hidup mapanpun setelah saya pelajari ternyata mereka dibesarkan sebelum pak X dinobatkan sebagai bagian pengadaan di tempat kerjanya, jadi mereka dinafkahi oleh gaji pak X saja bukan oleh upeti yang diterima pak X, sementara adik2 mereka yang dibesarkan dengan uang2 upeti pak X akhirnya bantat semua (emang kue bisa bantat?)
Singkat cerita waktu berputar, saat saya kuliah pak X akhirnya pensiun, anak2 pak Xpun akhirnya berkumpul di rumah pak X yang mewah dan besar itu karena mereka tidak meneruskan kuliah, tidak bekerja, kalaupun bekerja gak lama dipecat, kalaupun berbisnis entah kenapa mereka gagal terus, tapi pak X tidak khawatir, saldo rekening di bank masih besar & asset masih bertumpuk..... cukup untuk menghidupi 7 turunan katanya.
Di medio 2000-an pak X akhirnya meninggal dunia, lalu roda kehidupan berputar sangat kencang, anak2 pak X dan ibu kandungnya sendiri terlibat dalam pertengkaran hebat seputar pembagian warisan, bahkan sampai ke pengadilan segala, setelah konflik tajam selama 6 bulan pembagian warisanpun selesai, lalu mereka menikmatinya?, untuk setahun pertama iya, tapi tahun kedua dan selanjutnya?
Walau hidup sudah berubah mereka tak bisa mengubah gaya hidupnya, singkat kata uang dan asset warisan habis, ada yang di meja judi, kawin lagi, overdosis hingga meninggal, di tipu mitra bisnis dll, lalu anak2 pak X kembali ke rumah ibu kandung mereka yang sudah berubah bentuk, hanya 20% besarnya dari rumah mereka dulu.
Yang tidak hilang dari mereka adalah perasaan bahwa mereka adalah orang terhormat dan hebat, dengan tampilan sekedarnya jika profile tetap tinggi maka orang berkesimpulan mereka Omdo, tapi bagi orang2 yang memahami sejarah perjalanan hidup keluarga pak X, bisa memahaminya. Beberapa anak pak X berubah drastis, bayangkan, yang dulu pernah menjadi calon artis & sempat jadi model lalu menjadi bekerja sebagai pelayan toko & terakhir pembantu rumah tangga, yang dulu jadi boss buat teman2nya (termasuk saya ditraktir melulu), sekarang menjadi preman kampung yang menjaga area parkir, tragis sekali.
Penutup
Dear all, sewaktu mendapat amanah pekerjaan ini & sign contract, saya langsung ingat pak X dan jalan hidupnya, saya lalu berikrar pada diri sendiri; aku mau menjadi seorang yang memegang prinsip, biar orang mentertawakan diriku & menganggap diriku bego, saya gak peduli, saya pun bersyukur memiliki istri tercinta yang tidak pernah menuntut ini-itu diluar yang ditransfer masuk rekeningku, kalaupun ada side income itu karena penghasilan tambahan di luar pekerjaan dan tak ada kaitannya dengan pekerjaanku saat ini. Kan jadi "guru" yang berbagi ilmu ada honornya dan dari situlah side income aku mengalir...
Sayapun bersyukur, karena tidak ada yang menyebut diri ini munafik dan asbun saat berbusa2 bercerita tentang bagaimana menjaga attitude kita dan menginvestigasi penyimpangan dalam proses pembelian karena saya yakin dan memegang teguh prinsip, Alhamdulillah hingga detik ini dan selamanya.
Bahkan kalau ada teman yang menyindir dan berkata: "Den elo kan kerja di tempat basah ya?, enak donk!",
Saya dengan lugas bisa menjawab tanpa beban: "Gw gak kerja di tempat basah coy!, gw kerja di kantor jadi bagian procurement!",
Temen saya nyeletuk lagi: "Dasar bego lo!, ngurusin procurement itu kerja di tempat basah!"
Saya jawab; "oooo gw baru tau, elo mau kerja di tempat basah ni?"
Teman saya: "Iya donk, tajir tau, elo ada info lowongannya atau refensi?, mau donk!"
Jawab saya: "Ada nih, ada kenalan gw lagi nyari, yakin elo mau?"
Temen saya: "Of course donk, bego amat sampai gak mau, dikasih refensi lagi, apa nama perusahaannya, di mana tuh tempatnya dan apa aja proyeknya?"
Jawab saya: " nama perusahaannya "PT. Lippo Cikarang, di daerah Cikarang yang mau ke Purwakarta itu tuh!"
Temen saya: "Wow, kakap tuh!, jabatannya apa dan apa proyeknya?"
Jawab saya: "Tukang cuci kolam renang di water boom dan proyeknya adalah membuat kolam renang dan semua prasarana water Boom tetap bersih dan terjaga sehingga pengunjung merasa nyaman!"
Temen saya: "Gila lo ya, menghina gw lo?, itu sih tukang nguras kolam renang, bukan kerja di tempat basah, ngawur loh!"
Tawab saya: "Bener donk, coba elo pikir, kerja di kolam renang kan pasti basah melulu karena kena air terus, bahkan kalau mau lebih basah elo bisa nyebur ke dalam kolamnya sekalian!, kalo mau lebih basah lagi elo bisa apply untuk menangani semua tempat basah di Water Boom Cikarang, bukan cuma nguras kolam renangnya aja, tapi juga toiletnya sekalian!"
Temen saya: "dasar!, capek deh...."
jawab saya: "makanya hapus tuh naluri primitif dari otak eloh!"
Saya berharap, setelah membaca tulisan ini, anda mulai "mencuci otak anda" dari "naluri-naluri primitif" yang terkait dengan:
1. Ingin kaya dengan cara apa saja
2. Niat menyalahgunakan jabatan dan melupakan amanah
Jadikan diri anda pelopor untuk memperbaiki moral bangsa ini yang dimulai dari diri anda sendiri, jadi jika anda merasa korupsi birokrasi sudah merajalela, maka anda mulai dari diri anda untuk tidak menjadi bagian dari mereka yang korupsi, gak perlu berdemo2 di jalan sampai capek, gak perlu menulis buku, gak perlu jadi politisi, just take action aja; "bersihkan otak anda dari naluri primitif", stop perilaku menyuap dan disuap dengan label apapun, mulai dari uang terima kasih, parcell lebaran, pelicin, profit sharing antara sales dan procurement, dll niat kurang baik yang bermuara pada perbuatan korupsi. Saya tahu untuk pelaku bisnis ini akan menjadi dilematis, tapi pertanyaan saya untuk anda: "serendah itukah tujuan anda?, yang penting kaya tanpa perlu memikirkan bagaimana prosesnya dalam kacamata nilai moral bahkan agama?, bukankah lebih bahagia mendapat sedikit tapi halal dan berkah, dibanding banyak tapi tidak berkah dan dalam prosesnya ada dosa dan unsur tidak halal?"
Seilahkan anda renungkan, apapun pilihan hidup anda, pastikan panduan moral dan agama menyertai perjalanan hidup anda. Sekian sharing dari saya, mohon maaf belum sempurna, spontan aja nih...
Dari sudut pandang yang berbeda
Tapi itu kan kata orang lain.......
Kenyataannya?
Definisi moral menyatakan bahwa mendefinisikan pekerjaan Procurement sebagai pekerjaan basah adalah perbuatan dosa!, se-level & sederajat dengan kelakuan buruk yang saat ini dapat dipenjarakan, yaitu Korupsi, kolusi, & nepotisme. Bahkan pemerintahan negeri ini sampai membentuk lembaga bernama KPK untuk mengatasi dan memberantas korupsi.
Ada seorang teman yang jadi pengamat sosial mendefinisikan orang yang memandang posisi pekerjaannya untuk keuntungan pribadinya adalah perbuatan jahat dan jika komunitas lalu memujinya akibat keberhasilannya memanfaatkan pekerjaannya untuk meningkatkan jumlah asset dan saldo bank, maka orang itu dan komunitasnya termasuk kategori manusia yang bernaluri primitif, serem ya definisinya
Tetapi kenapa orang2 yang menangani Procurement selalu dianggap sebagai orang yang bisa memperoleh side income (yang konon haram) dari para rekanannya?, padahal tidak semua lho bagian Procurement bernaluri rendah seperti itu, ada juga bagian Procurement yang berusaha memegang teguh standar etika dan moral, serta bekerja sesuai job desk yang diberikan yaitu; mencari sourcing terbaik, berkualitas, dalam waktu singkat, berkelanjutan, serta dengan harga yang terbaik untuk organisasi, bahkan dalam job desk yang mulia itu ditambahkan klausula; salah satu KPI sang Procurement adalah jika dia bisa bernegosiasi dengan Vendor untuk memperoleh harga yang murah sehingga bisa menekan expense dan menghemat budget yang sudah di anggarkan, artinya; jika di budgetkan harga barang yang akan di beli 1 juta, maka sang Procurement dianggap sukses jika dia bisa memperoleh barang itu dengan harga di bawah 1 juta, kalo perlu dengan harga pabrik!Lalu, benarkah dan haruskah bagian procurement menikmati "upeti" yang berlimpah ruah dari para rekanan atau calon supplier yang rajin membagi pelicin (jatuh donk kalau jalannya licin) serta berbagai bonus agar order terus datang?, beberapa mungkin berperilaku seperti itu, tapi banyak juga yang tetap menjaga komitmen, walau menangani kontrak milyaran rupiah perbulan, maka bagian Procurement seharusnya tidak silau dengan tawaran fee sekian % dari nilai kontrak, profit atau fee sharing dengan sales/rekanan, mengundang saudara dan kerabatnya menjadi supplier dll perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai bagian dari "naluri primitif para pendosa". Bahagiakah anda dengan side income seperti itu?, jika otak anda waras dan masih punya moral maka anda akan merasa tersiksa atau minimal merasakan kebahagiaan semu.
Hikayat Pendosa: Bagian Procurement Yang Melanggar Amanah
Saya mau bercerita sedikit, kutipan kisah nyata yang sering anda jumpai di lingkungan anda atau bahkan keluarga anda, yaitu jalan hidup orang2 yang menangani Procurement kemudian menyalahgunakan jabatannya untuk memperkaya diri dan melupakan job desk dan amanat organisasi dan perusahaan agar dia mencarikan sumber terbaik dengan harga termurah.
Sebutlah pak X (dia sudah almarhum sekarang), di era tahun 80-an pak X ini menjabat Kepala Bagian Pengadaan di sebuah BUMN terkemuka, saya saat itu masih kecil dan sering berkunjung ke rumah pak X karena dia masih kenalan dekat keluarga kami sudah mirip keluarga rasanya, rumahnya mewah, tanahnya di mana2, dan istri serta anak2nya dimanjakan dengan berbagai mode fashion terbaru hingga kendaraan terbaru, belakangan saya tahu bahwa semua kemewahan itu bukan berasal dari gaji dan bonus pak X, tapi tanda terima kasih dari Om2 yang suka berkunjung ke rumah atau menjamu keluarga pak X, karena berkat "bantuan dan pengertian" pak X mereka berhasil memenangkan tender dan dijadikan rekanan tetap, bahkan dengar punya dengan pa X juga mendapatkan jatah saham di beberapa perusahaan supplier tersebut.
Anak2 pak X ada yang sebaya dengan saya, ketika menginjak remaja alias ABG di era tahun 90-an, sesuatu yang menjadi fenomena yang wajar bagi para "penikmat uang haram" serta orang yang menyalahgunakan amanah terjadi, satu-persatu anak2 pak X menjadi tidak terkendali, ada yang hoby nyi-meng (menghisap ganja karena waktu itu belum ada Shabu2), ada yang kerjanya keluyuran malam, ada yang gonta-ganti pacar hingga bergelar MBA (Married By Accident), serta seabreg kelakuan buruk para ABG, dari sisi akademis anak2 pak X juga tidak ada yang mewarisi kualitas intelektual ayahnya, mereka ada yang putus sekolah bahkan DO kuliah!. Tak ada satupun anak2 pak X yang mengikuti keberhasilan karir ayahnya, beberapa anak sulung pak X yang hidup mapanpun setelah saya pelajari ternyata mereka dibesarkan sebelum pak X dinobatkan sebagai bagian pengadaan di tempat kerjanya, jadi mereka dinafkahi oleh gaji pak X saja bukan oleh upeti yang diterima pak X, sementara adik2 mereka yang dibesarkan dengan uang2 upeti pak X akhirnya bantat semua (emang kue bisa bantat?)
Singkat cerita waktu berputar, saat saya kuliah pak X akhirnya pensiun, anak2 pak Xpun akhirnya berkumpul di rumah pak X yang mewah dan besar itu karena mereka tidak meneruskan kuliah, tidak bekerja, kalaupun bekerja gak lama dipecat, kalaupun berbisnis entah kenapa mereka gagal terus, tapi pak X tidak khawatir, saldo rekening di bank masih besar & asset masih bertumpuk..... cukup untuk menghidupi 7 turunan katanya.
Di medio 2000-an pak X akhirnya meninggal dunia, lalu roda kehidupan berputar sangat kencang, anak2 pak X dan ibu kandungnya sendiri terlibat dalam pertengkaran hebat seputar pembagian warisan, bahkan sampai ke pengadilan segala, setelah konflik tajam selama 6 bulan pembagian warisanpun selesai, lalu mereka menikmatinya?, untuk setahun pertama iya, tapi tahun kedua dan selanjutnya?
Walau hidup sudah berubah mereka tak bisa mengubah gaya hidupnya, singkat kata uang dan asset warisan habis, ada yang di meja judi, kawin lagi, overdosis hingga meninggal, di tipu mitra bisnis dll, lalu anak2 pak X kembali ke rumah ibu kandung mereka yang sudah berubah bentuk, hanya 20% besarnya dari rumah mereka dulu.
Yang tidak hilang dari mereka adalah perasaan bahwa mereka adalah orang terhormat dan hebat, dengan tampilan sekedarnya jika profile tetap tinggi maka orang berkesimpulan mereka Omdo, tapi bagi orang2 yang memahami sejarah perjalanan hidup keluarga pak X, bisa memahaminya. Beberapa anak pak X berubah drastis, bayangkan, yang dulu pernah menjadi calon artis & sempat jadi model lalu menjadi bekerja sebagai pelayan toko & terakhir pembantu rumah tangga, yang dulu jadi boss buat teman2nya (termasuk saya ditraktir melulu), sekarang menjadi preman kampung yang menjaga area parkir, tragis sekali.
Penutup
Dear all, sewaktu mendapat amanah pekerjaan ini & sign contract, saya langsung ingat pak X dan jalan hidupnya, saya lalu berikrar pada diri sendiri; aku mau menjadi seorang yang memegang prinsip, biar orang mentertawakan diriku & menganggap diriku bego, saya gak peduli, saya pun bersyukur memiliki istri tercinta yang tidak pernah menuntut ini-itu diluar yang ditransfer masuk rekeningku, kalaupun ada side income itu karena penghasilan tambahan di luar pekerjaan dan tak ada kaitannya dengan pekerjaanku saat ini. Kan jadi "guru" yang berbagi ilmu ada honornya dan dari situlah side income aku mengalir...
Sayapun bersyukur, karena tidak ada yang menyebut diri ini munafik dan asbun saat berbusa2 bercerita tentang bagaimana menjaga attitude kita dan menginvestigasi penyimpangan dalam proses pembelian karena saya yakin dan memegang teguh prinsip, Alhamdulillah hingga detik ini dan selamanya.
Bahkan kalau ada teman yang menyindir dan berkata: "Den elo kan kerja di tempat basah ya?, enak donk!",
Saya dengan lugas bisa menjawab tanpa beban: "Gw gak kerja di tempat basah coy!, gw kerja di kantor jadi bagian procurement!",
Temen saya nyeletuk lagi: "Dasar bego lo!, ngurusin procurement itu kerja di tempat basah!"
Saya jawab; "oooo gw baru tau, elo mau kerja di tempat basah ni?"
Teman saya: "Iya donk, tajir tau, elo ada info lowongannya atau refensi?, mau donk!"
Jawab saya: "Ada nih, ada kenalan gw lagi nyari, yakin elo mau?"
Temen saya: "Of course donk, bego amat sampai gak mau, dikasih refensi lagi, apa nama perusahaannya, di mana tuh tempatnya dan apa aja proyeknya?"
Jawab saya: " nama perusahaannya "PT. Lippo Cikarang, di daerah Cikarang yang mau ke Purwakarta itu tuh!"
Temen saya: "Wow, kakap tuh!, jabatannya apa dan apa proyeknya?"
Jawab saya: "Tukang cuci kolam renang di water boom dan proyeknya adalah membuat kolam renang dan semua prasarana water Boom tetap bersih dan terjaga sehingga pengunjung merasa nyaman!"
Temen saya: "Gila lo ya, menghina gw lo?, itu sih tukang nguras kolam renang, bukan kerja di tempat basah, ngawur loh!"
Tawab saya: "Bener donk, coba elo pikir, kerja di kolam renang kan pasti basah melulu karena kena air terus, bahkan kalau mau lebih basah elo bisa nyebur ke dalam kolamnya sekalian!, kalo mau lebih basah lagi elo bisa apply untuk menangani semua tempat basah di Water Boom Cikarang, bukan cuma nguras kolam renangnya aja, tapi juga toiletnya sekalian!"
Temen saya: "dasar!, capek deh...."
jawab saya: "makanya hapus tuh naluri primitif dari otak eloh!"
Saya berharap, setelah membaca tulisan ini, anda mulai "mencuci otak anda" dari "naluri-naluri primitif" yang terkait dengan:
1. Ingin kaya dengan cara apa saja
2. Niat menyalahgunakan jabatan dan melupakan amanah
Jadikan diri anda pelopor untuk memperbaiki moral bangsa ini yang dimulai dari diri anda sendiri, jadi jika anda merasa korupsi birokrasi sudah merajalela, maka anda mulai dari diri anda untuk tidak menjadi bagian dari mereka yang korupsi, gak perlu berdemo2 di jalan sampai capek, gak perlu menulis buku, gak perlu jadi politisi, just take action aja; "bersihkan otak anda dari naluri primitif", stop perilaku menyuap dan disuap dengan label apapun, mulai dari uang terima kasih, parcell lebaran, pelicin, profit sharing antara sales dan procurement, dll niat kurang baik yang bermuara pada perbuatan korupsi. Saya tahu untuk pelaku bisnis ini akan menjadi dilematis, tapi pertanyaan saya untuk anda: "serendah itukah tujuan anda?, yang penting kaya tanpa perlu memikirkan bagaimana prosesnya dalam kacamata nilai moral bahkan agama?, bukankah lebih bahagia mendapat sedikit tapi halal dan berkah, dibanding banyak tapi tidak berkah dan dalam prosesnya ada dosa dan unsur tidak halal?"Seilahkan anda renungkan, apapun pilihan hidup anda, pastikan panduan moral dan agama menyertai perjalanan hidup anda. Sekian sharing dari saya, mohon maaf belum sempurna, spontan aja nih...
Dari sudut pandang yang berbeda






2 comments:
Kisah Pak X bisa menjadi pelajaran sangat berharga bagi kita semua, berhati-hatilah dengan asal muasal harta yang kita miliki!
Terimakasih pada Kang Deni atas tulisannya yang menggugah.
Salam,
Wendra
Kang Deni, saat ini saya lagi diberi ujian sama Allah sbg seorang Procurement di bidang publishing company. Saya suka dengan job saya karena bisa nambah berbagai bidang ilmu pengetahuan, namun yang skg in menjadi kendala bagaimana meminimalkan konflik2 antara personal yang cara berpikirnya masih seperti jaman Primitif. MUngkin kang Deni bisa kasih saran ke saya. trims ya
Post a Comment