Assalamu'alaikum Wr. Wb.Saat ini (09 Desember 2007) saya berada di Nanggro Aceh Darussalam untuk tugas kantor hingga mendekati libur Iedul Adha... (19 Desember 2007 Insya Allah pulang ke Jakarta)
Kami akan merintis integrasi kantor dan hand over pekerjaan dari staf expatriate kepada staf lokal secara bertahap, semua staf2 asing akan pulang pada bulan Juni 2008, karena program rekonstruksi Tsunami akan berakhir tahun 2009 awal, setelah itu kantor akan lebih kecil dengan jumlah staff yang tidak sebanyak sekarang. Kantor yang tadinya semi independent yang langsung bertanggungjawab ke worldwide headquarter seperti halnya yang juga terjadi dalam proses operasional international NGO's lainnya, menjadi di bawah koordinasi national country office.
Di hari pertama observasi, saya melihat "pemandangan tragis", saat melihat cara staff lokal dan expatriate ini bekerja, ingin menangis rasanya melihat staf lokal diperlakukan seperti orang yang tidak bisa dipercaya, dianggap tidak mampu, dan pemalas, sementara orang2 asing ini berlagak mirip dewa yang luar biasa hebatnya... Saya bisa memahami hal ini, orang2 asing ini kebanyakan berasal dari negara2 persemakmuran (eks jajahan Inggris) dan mereka mengadopsi banyak kultur Inggris, mereka terbiasa bekerja individu dan tidak team work, mereka sangat selfish, memiliki rasa percaya diri yang luar biasa, dan berani mencoba apapun termasuk mengerjakan sesuatu yang bukan keahliannya sangat "eager to learn", apalagi dalam sejarahnya Inggris menjajah negara2 mereka "secara bertanggungjawab" berbeda dengan Belanda yang tidak mengajarkan banyak hal kepada bangsa ini kecuali membangun Amsterdam yang megah dari hasil bumi Indonesia dan meninggalkan masalah perilaku tidak memiliki percaya diri karena ditanamkan stigma inlander selama 350 tahun, sehingga perilaku ini kadang masih muncul di beberapa generasi; "terkagum2 dan takjub saat bertemu orang asing, bahkan dari bangsa manapun juga".
Pantas saja banyak NGO's international yang beroperasi di Aceh ini, walau niatnya sangat tulus dan ikhlas membantu rakyat Aceh bangkit setelah dilanda Tsunami, merasa kurang yakin bahkan setengah percaya pada kemampuan anak bangsa ini mengelola uang bantuan mereka. Banyak stigma buruk menempel di bangsa ini, mulai dari birokrat korup hingga SDM yang tidak PD sehingga pada akhirnya tidak kompeten. Sehingga mereka bukan saja mendatangkan berbagai peralatan built up untuk menunjang pekerjaan mulia mereka, tetapi juga mendatangkan secara built up tenaga kerja expatriate mereka. Sorotan ribuan bahkan jutaan donor baik individu, institusional, maupun korporasi yang mengamanahi NGO's international ini untuk rekonstruksi Aceh membuat mereka membuat pilihan tegas; jangan bermain2 dengan amanah donor!, niat yang sangat baik dan terpuji walaupun buntutnya kurang elok; jangan terlalu percaya kepada SDM Indonesia.
Sebetulnya saya heran dan sangat heran, kenapa kita selalu merasa rendah diri jika bertemu bangsa asing, istilahnya; inlander mindset begitu?, kurang apa bangsa ini?, para expatriate di tempat saya bekerja datang dari berbagai bangsa; Macedonia, Kenya, Pakistan, Bangladesh, Srilangka, Dominika, & Mesir. Tidak ada yang luar biasa dari para expatriate ini, mereka datang dari negara2 berkembang yang kondisi pertumbuhan ekonomi, GNP, GDP, dan stabilitas politiknya kadangkala lebih buruk di banding Indonesia, tapi ada satu hal yang bisa dijadikan pelajaran berharga dari mereka; mereka begitu bangga menjadi bangsanya & memiliki kepercayaan diri yang sangat besar, padahal di beberapa negera2 mereka sekarang berkecamuk perang etnis, genocide dll, industri di negara mereka juga tidak banyak, ini diketahui saat mereka berkunjung ke Medan dan Jakarta, mereka sangat terkagum2 dengan kawasan industri di sana, korupsi? sama parahnya!, dan kebencian rasial menjadi perilaku keseharian di negara2 tersebut.
SO?, bandingkan dengan Indonesia, Dengan penduduk berjumlah lebih dari 228 juta (sensus penduduk tahun 2000), sekitar 300 etnis hidup damai di Indonesia dengan ratio etnis sbb: orang Jawa40.6%, Sunda 15%, Chinese 10%, Madura 3.3%, Minangkabau 2.7%, Betawi 2.4%, Bugis 2.4%, Banten 2%, Banjar 1.7%, dan ratusan etnis lainnya termasuk orang Aceh dalam angka 19,9%, ada 6 pemeluk agama hidup rukun; Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Tao/Konghuchu, betapa luar biasa negeri ini?Indonesia juga memiliki banyak sumber daya alam dan potensi wisata yang luar biasa, walau ini jadi catatan tersendiri; sumber daya alam yang luar biasa ini tidak dikelola dengan baik akibat kesalahan kebijakan pemerintah di masa lampau dan masih berlanjut hingga kini, potensi wisata juga demikian, baru beberapa daerah yang menggarap secara professional; Bali, Yogyakarta, Lombok, Toraja, lainnya belum bergerak. Banyak industri besar tumbuh dan berkembang di Indonesia, baik PMA, PMDN, BUMN, maupun UKM, walau ada catatan tersendiri dalam hal layanan publik dan birokrasi kepada dunia usaha, yang membuat mereka harus menanggung hidden cost yang sangat tinggi, tapi dengan kondisi ini pebisnis2 Indonesia masih bisa mensiasatinya dan tetap bertahan.
Demokrasi adalah anugerah terbesar bagi bangsa yang majemuk ini, karena sejauh ini belum ada negara multi etnis lainnya di dunia termasuk Amerika Serikat sekalipun berhasil melaksanakan demokrasi dengan makna sesunguhnya, partisipasi pemilu warga negara sangat tinggi antara 90% - 95% bandingkan dengan Amerika Serikat yang hanya mencapai angka 60% saja sisanya 40% memilih jadi golput, pasca reformasi yang menurunkan rezim Soeharto yang berkuasa 32 tahun, bangsa ini menjadi negara paling demokratis di kawasan Asia Tenggara, mulai dari Lurah hingga Presiden dipilih langsung oleh rakyat, walaupun masalah money politics, parpol yang tidak kompeten sehingga melahirkan politisi tidak berkualitas membayangi semua ini.
Perilaku korupsi dan rent seeking adalah masalah tersendiri dan PR besar bangsa ini, sangat serius, karena akibat gencarnya publikasi, banyak bangsa menganggap Indonesia adalah "the most corruption country in the world", mengatasi korupsi adalah tugas mulia kita bersama, sistem penegakkan hukum adalah otoritas pemerintah, tapi yang paling penting adalah nawaitu dari kita semua untuk ikut menghilangkan perilaku korupsi dan rent seeking dari lingkungan kita terlebih dahulu.
Dengan semua kondisi tersebut di atas, sudah sepantasnyalah kita semua bangga menjadi bagian dari negeri yang bernama Indonesia, jangan merasa rendah diri dan tidak yakin saat berhadapan dengan orang asing, percaya pada kemampuan diri sendiri, suda seharusnya kita bangun etos kerja sebagai orang Indonesia yang terbiasa bekerja secara team work dengan konsep gotong royong, tidak mengutamakan diri sendiri tapi mengutamakan kepentingan bersama, menjadi orang2 yang mampu menganalisa masalah dan bekerja sistematis karena kita semua berulangkali mempelajari hal ini, lihatlah bangsa Jepang, Korea, China serta para perantau China yang tinggal di Indonesia, mengapa mereka maju?, karena mereka yakin dengan diri mereka sendiri, percaya diri, bekerja keras, mau belajar, dan tidak terlalu memperdulikan cercaan dan hinaan dari bangsa2 lain yang ditujukan kepada mereka, sehingga akhirnya mereka menjadi bangsa yang maju dalam ilmu, teknologi, dan ekonomi, bangsa Jepang adalah contoh nyata, setelah hancur akibat di bom atom dan menghabiskan anggaran perang yang begitu besar dan hampir bangkrut pasca perang dunia II di tahun 1945, bangsa Jepang perlahan bangkit, dan 60 tahun berlalu bangsa ini menjadi salahsatu bangsa yang makmur dan maju di dunia.
Nah bagaimana dengan kita saat ini?, saya rasa kita lebih banyak duduk terpaku dan mengamati hingga lupa bangkit, itulah sebabnya saat orang asing datang dan bekerja sama dengan kita2 semua, mereka pasti menjudge kita tidak capable, menyakitkan memang?, tapi itulah faktanya. Nah dengan data2 empiris yang saya sajikan di atas, seharusnya kita jauh lebih bangga, lebih percaya diri, pantas dipercayai, dan (yang paling penting) pantas di amanahi, sehingga pada akhirnya kita akan berdiri sejajar dengan bangsa2 terkemuka di dunia ....
Catatan dari Nanggro Aceh Darussalam
Banda Aceh, 09-12-2007






5 comments:
Wah...Salut dengan Mas Deni!
Briefing-nya bagus sekali nih, bahkan seperti Pidato Bung Karno ya..hehehe..Luar Biasa Prima!
Selamat Berjuang!
Salam,
Wuryanano
http://wuryanano.wordpress.com/
iya Kang Deni..
tetep semangat untuk nunjukin kalo kt orang Indonesia ga kalah dengan orang2 luar...
skrg kt banyak mengimpor orang luar, ke depan, kt yang akan gantian ekspor orang ahli kt keluar...:)
Wassalam,
Budi
-http://setiawanbudi.blogspot.com
Hehehehe.........
ass kang deni
Membaca blog kang deni saya juga mempunyai problem yang hampir sama karena saya bekerja di salah satu NGO British Red Cross sebgai Logistics Officer, kita sebagai logistician memang penuh dengan rintangan baik dengan supplier maupun dengan calon pencari kerja lokal dari aceh. di penghujung desember ini kami akan hand over seluruh rumah di daerah teunom. harapan kami semua apa yang telah kita berikan kepada masyarakat dapat menjadi pelajaran untuk semua.
Setuju Kang Deni... Tulisan yang memberi pencerahan.
Memang suatu hal yang memprihatinkan. Di tempat bekerja saya saat ini pun, hal yang sama (meskipun dalam bentuk yang berbeda) terjadi. Bahkan sampai level paling tingi (top management).
Tantangan buat saya untuk memotivasi bahwa, untuk lebih self-confident untuk mendapatkan kepercayaan (trust) dari manajemen. Bahwa mereka tidak lebih rendah dari expatriate, expatriate tidak lebih pintar dari mereka ...
Salam
Herry
www.emha1968.multiply.com
Silakan berkunjung.
Assalamu'alaikum
salam kenal dari saya buat Kang Deni.
Yah begitulah orang Indonesia dimata orang asing, ga usah jauh jauh di aceh di Jakarta saja itu terjadi, tapi kalo dipikir-pikir kadang-kadang bener juga sih mereka, abis kebanyakan mental orang indonesia seperti itu, semoga para petinggi sadar kalo semua ini bersumber dari rendahnya pendidikan skill, moral dan character bangsa Indonesia.
He..he..he..serius amat, ayo majukan pendidikan rakyat indonesia, sadarlah para koruptor dana pendidikan, hidup anda bukan hanya di dunia ini, sadarlah.
Post a Comment