Tuesday, March 11, 2008

Komunikasi Bisnis Antar Bangsa: ...Lain Lubuk Lain Ikannya


Dear All..

Pernah mendengar peribahasa; "lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya?", ini sebuah pesan moral yang luhur nan bijak dari para orangtua kita tentang etika menghargai perbedaan budaya antar kelompok, golongan, etnis dan bangsa. Saya memperoleh peribahasa ini dari pelajaran bahasa Indonesia saat masih di SD, dan guru saya mengajarkan dengan panjang lebar makna keluhuran toleransi ini.

Dalam konteks marketing antar budaya dan bangsa, peribahasa ini sangat mujarab dan ampuh untuk mengenali karakterisik perilaku konsumen dari bangsa dan negara lain. Para marketer seharusnya sangat berhati2 dengan hal2 yang sangat sensitif terkait budaya ini. Sebagai orang Indonesia misalnya, kita sangat mahfum dan paham bahwa bahasa Indonesia dan bahasa Melayu Malaysia seringkali memiliki arti yang berlawanan, sehingga seorang teman saya yang berkebangsaan Amerika akhirnya pusing dengan perbedaan "meanings" ini, dan temannya yang lain memberi tahu kalau belajar bahasa Indonesia jangan bersamaan dengan bahasa Malaysia, bisa pusing tujuh keliling katanya. Coba saja perhatikan; rumah sakit bersalin di Indonesia di Malaysia namanya Rumah Sakit Korban Laki2, berputar2 dalam bahasa Indonesia sama dengan berpusing2 dalam bahasa Malaysia, nah pusing kan?.

Itu baru dari segi bahasa, belum lagi "body language", misalnya saja;
Bagi kebanyakan pria dari negara2 Timur Tengah, memeluk tamu sesama pria saat bertemu dan pamit itu menunjukkan keakraban dan persahabatan. tetapi bagi pria dari mayoritas negara Eropa, kalau anda tidak ada momen khusus yang membuat anda terharu atau bahagia luarbiasa, jangan pernah sekalipun memeluk tamu sesama pria anda, kecuali kalau mau disebut atau dicurigai sebagai gay.

Lalu sikap banyak tersenyum dan berani menatap tajam lawan jenis bicara menunjukkan anda seorang wanita yang tangguh bagi kebanyakan bangsa Asia dan bangsa lainnya di dunia, tapi di beberapa negara Timur Tengah, seorang wanita bersikap seperti itu berarti anda memberikan makna yang negatif dan mengundang hal yang tidak pantas.

Di banyak daerah di Indonesia menjamu tamu yang kita anggap penting dengan memberikan hidangan itu wajib dicicipi oleh tamu tersebut walau sekedar seteguk air saja, karena tuan rumah akan merasa di hargai, kalau anda tidak bersedia menjamahnya berarti anda tidak menghargai atau bahkan menghina tuan rumah, tapi untuk beberapa etnis di negara Afganistan dan Pakistan, jika anda seorang tamu yang dianggap penting lalu dijamu oleh tuan rumah, berhati2lah dengan jamuan itu, karena saat anda menyantap hidangan itu anda sudah memberikan komitmen tidak langsung untuk bekerjasama atau membantu mereka, uniknya lagi; semakin lengkap dan wah hidangan tersebut memberikan tanda bahwa semakin besar harapan mereka kepada anda, akan tetapi jika anda tidak menyentuh hidangan itu, merekapun tidak tersinggung dan langsung memahami bahwa anda telah memberikan penolakan atas harapan dan permintaan mereka.

Jangankan dengan bangsa lain, di Indonesia sendiri antar etnis berbeda akan memiliki pemahaman yang berbeda, misalnya; jangan pernah menghidangkan bubur ayam sebagai jamuan makan siang kepada orang dari etnis tertentu misalnya, karena bubur nasi diasumsikan sebagai hidangan untuk orang sakit, tapi di tempat saya berasal (Jawa Barat), bubur nasi justru menjadi makanan alternatif di samping mie bakso, tuh kan berbeda?

Menurut Tubbs & Moss (1996), Komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosioekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini. Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi. Sedangkan Gudykunst dan Kim (1992), memberi contoh komunikasi antar budaya sebagai berikut: Perhatikan kunjungan seorang asing yang menganut budaya bahwa kontak mata selama berkomunikasi adalah tabu di Amerika Utara. Bila si orang asing berbicara kepada penduduk Amerika Utara dengan menghindari kontak mata, maka ia dianggap menyembunyikan sesuatu atau tidak berkata benar.

Sesuatu yang sopan menurut suatu bangsa justru menjadi tidak lazim menurut bangsa lainnya, dalam proses pergaulan antar bangsa, perbedaan ini jika tidak dipahami dengan bijak kadang menimbulkan benturan budaya, dan dalam bahasa negosiasi dan marketing, benturan ini bisa bermakna batalnya prospek dan peluang bisnis akibat anda melupakan faktor ini.

Menurut TB Sjafri Mangkunegara (2007), ada 3 (tiga) dimensi budaya yang perlu dipahami oleh masing-masing perusahaan atau pihak yang bekerjasama. Yang pertama adalah masalah bahasa; kedua tentang perilaku sosial dan kebiasaan-kebiasaan tiap bangsa, dan ketiga adalah perbedaan budaya. Perbedaan budaya nasional dapat menyebabkan setiap bangsa memiliki perbedaan cara memandang ketika menghadapi persoalan yang sama. Karena itu dinilai perlu untuk mencari solusi bagaimana dapat dikembangkan upaya berbagi pemahaman tentang budaya masing-masing. Dengan demikian friksi aliansi bisnis dapat diperkecil.

Lalu bagaimana anda mensiasati perbadaan kultur ini dalam proses marketing dan tahapan negosiasi?, dalam banyak kasus kejelian anda mengetahui bagaimana latarbelakang kultur mitra anda dari bangsa lain menjadi kunci sukses dalam proses negosiasi, di samping itu memahami latarbelakang pendidikan dan konsep yang bersangkutan terhadap citra budaya dan nasionalismenya juga harus anda cari tahu. Sebagai contoh; orang Arab yang sudah lama menetap di Inggris misalnya cenderung sudah mengadopsi nilai2 kultur bangsa Inggris walau disatu sisi masih berpegang pada tradisi Arabnya, lalu domisili kotanya, jika mereka tinggal di ibukota negara atau kota besar di negaranya yang sudah taraf metropolitan, maka orang tersebut cenderung lebih terbuka menerima perbedaan budaya karena biasa berinteraksi dengan etnis lain atau bangsa lain dalam kehidupannya sehari2, dibanding orang dari bangsa yang sama tapi tinggal di ibukota propinsi atau kota kecil lainnya, mereka masih terikat pada kultur etnis dan bangsanya.

Seringkali terjadi kasus unik dalam proses saling mengetahui ini, ingin menghormati tamu malah hasilnya tamu anda merasa tidak dihormati. Misalnya saja anda sebagai tuan rumah berusaha menyenangkan rekan bisnis dari luar negeri dengan menyediakan jamuan makan malam dan hal lainnya yang membuat sang tamu merasa berada di negaranya sendiri saat berkunjung ke negara kita, anda buatkan steak dan salad untuk tamu dari Eropa dan menginap di hotel standar internasional dengan European foods serta mengajak hanging out ke resto atau cafe bernuansa western, lalu apa yang terjadi?, tamu anda malah kecewa, karena dia sebenarnya ingin mencicipi gado2, nasi goreng, meminum wedang jahe, kopi toraja, menonton tari kecak atau wayang orang, serta menginap di hotel yang bernuansa khas Indonesia yang penuh dekorasi rotan atau bambu khas daerah tertentu, tapi anda tidak menyediakannya atau mengajak yang bersangkutan ke tempat2 sesuai harapannya, dia mungkin tidak berkomentar atau marah, hanya terdiam dan menerima saja, tapi kalau anda jeli bisa membaca body language yang bersangkutan saat menerima jamuan anda, cara dia berkomentar tentang steak yang anda hidangkan misalnya, pasti ketahuan bahwa dia menginginkan sesuatu yang berbeda.

Tidak semua tamu orang asing selalu "home sick" saat berkunjung ke suatu negara, seringkali mereka ingin mengetahui keunikan budaya "host" yangg dia kunjungi, saya saja kalau travelling selalu penasaran dengan makanan unik daerah tersebut, saya sendiri yang saat ini di Aceh tidak mencari masakan sunda di Aceh saat makan, tetapi saya malah mencari gulai bebek, gulai iga sapi, mie aceh, kopi aceh yang khas karena butirannya sebesar pasir dan di saring saat diseduh. jadi sebaiknya anda klarifikasi dengan halus saat menawarkan jamuan makan atau berwisata, misalnya saja tanyakan kepada tamu anda; "ingin masakan seperti di rumah anda atau ingin mencoba keunikan masakan khas negeri kami atau kampung halaman saya?.

Lalu dalam membaca perbedaan2 bahasa dan body language juga demikian, sebaiknya cari tahu dulu sebelum bertemu dan meeting, supaya anda tidak kaget ketika tamu anda yang pria Arab memeluk erat anda (jika anda pria) saat bersalaman, atau sang tamu wanita menunduk atau memalingkan muka jika anda tatap, atau anda tidak merasa dilecehkan atau diragukan saat mitra bisnis anda dari negara2 Eropa menatap tajam anda saat bicara atau mengernyitkan dahi saat berpikir, itu maknanya berbeda dengan orang Indonesia saat bersikap sama.

Setelah memahami body language dan cara berkomunikasi lisan, anda juga sebaiknya memahami pemahaman bahasa, saat ini sudah umum meng-Inggriskan bahasa sendiri, sehingga ketika seorang korea menulis surat bisnis dalam bahasa Inggris kepada orang Indonesia, maka orang Indonesia memerlukan waktu sejenak untuk memahami maksud2 dalam kalimat tertentu, demikian juga sebaliknya, untuk mengatasi masalah ini selalu berkomunikasilah secara detail jika ada yang tidak dipahami, apalagi jika bertemu orang dari bangsa yang bukan native language bahasa tersebut, misalnya orang Korea bertemu anda memakai bahasa Inggris.

Terakhir, kadang orang punya persepsi tertentu tentang suatu bangsa yang dia akan kunjungi, perilaku menggenalisir keadaan juga merupakan habit banyak orang di dunia, ini dampak dari globalisasi informasi, jangan marah dan tersinggung jika menemukan realitas misalnya; orang asing merasa takut dan tidak nyaman saat berada di ruang publik walau di depan bundaran HI dan cafe megah sekalipun, karena dia memperoleh cerita tentang tingkat kriminalitas di Jakarta yang begitu tinggi, atau orang Indonesia tidak bisa dipercaya sehingga dia meminta garansi berlapis2 saat membuat draft kontrak bisnis. Jika menemukan mitra seperti ini tidak perlu anda sanggah atau merasa tersinggung, berikan fakta nyata bahwa kondisi faktual tidak seburuk imajinasi dia, lalau jangan ajak dia berkunjung ke tempat2 yang akan membenarkan asumsi dan image buruk tersebut, dengan melihat realitas yg ada, tanpa perlu anda klarifikasi image buruk tsb akan hilang dari benak tamu anda.

Tapi ada yg jadi bahasa internasional saat berkomunikasi, yaitu komitmen terhadap disiplin terutama tepat waktu dan konsisten, ini sudah bahasa universal sepertinya...

So, siap berinteraksi dengan mitra bisnis anda dari bangsa lain?, semoga tips saya bisa sedikit membantu anda, good luck

1 comments:

ariekeren said...

saya suka ide dari tulisan ini, saya ingin meluruskan beberapa menurut sependek yang saya tahu ya. Bila ada yang lebih tahu lagi dari saya maka silakan koreksi saya (karena sehari-hari saya sendiri tetap tidak pakai melayu sama sekali, selalu Inggris).

sejak bulan Oktober 2007 saya berada di Kuala Lumpur (bekerja di perusahaan basis Jerman dan Amerika/hanya sedikit sekali yang Malaysian), ketika saya tanyakan ke seorang malaysian friend, dia malah bingung tidak tahu apa itu artinya rumah sakit korban laki-laki. setelah saya terangkan, barulah dia menjelaskan, bahwa di Malaysia sebutannya juga sama, yaitu Rumah Bersalin.

Sementara pusing, benar, artinya putar atau belok.

Tetapi ada yang menarik ketika ada seorang teman yang lain yang juga berkebangsaan Malaysia, dia mencontohkan logat Melayu dari Serawak, anehnya ternyata Melayu di Serawak juga punya kata "bisa" seperti kita orang Indonesia. Sementara kalau di Kuala Lumpur, bisa hanya berarti satu macam, yaitu poison/racun, dan "boleh" untuk mengucapkan "bisa", bukan seperti bahasa kita yang berarti dapat, sementara "boleh" dirasa terlalu halus, karena meminta izin untuk melakukan sesuatu.

Lalu mengenai memegang di budaya Barat, teman-teman saya orang Eropa bilang mereka tidak peduli dengan sekeliling, maka dari itu dia bilang, terserah mau telanjang apa mau pegang-pegangan kita gak peduli, berbeda dengan watak kita orang asia, indonesia, kalau ada orang ciuman di jalan misalkan, maka kita akan perhatikan, terlebih-lebih di Kuala Lumpur sini, bisa-bisa jadi bahan tertawaan supir-supir taksi, karena memang kurang lazim. Mengenai asosiasi dianggap gay, saya kira itu hanya berlaku di negara-negara tertentu di bagian / state tertentu juga, jadi tidak sepenuhnya seluruh benua eropa atau barat.

Contoh seperti teman saya ada orang Finlandia, tidak biasa dipegang, sementara teman saya orang Argentina, kehangatan bersahabat dan berteman ditunjukkan dengan betapa mereka sering memegang (memeluk, pokoknya kena badan gitu). Kalau teman kita dari Finlandia, justru dipegang itu diartikan memukul :-)