
Dear All...
Sebagai pekerja NGO's, jujur saya sedih melihat praktek2 menyimpang di internal NGO's (ilustrasi berdasarkan realita), seperti:
1. Korupsi; Kang Adun memanipulasi laporan kegiatan proyek, menambah2i jumlah beneficiary program, mark up budget dll untuk keuntungan pribadi.
2. Kolusi; Kang Adun ditugaskan membuat proposal program bantuan, ada barang yg harus dibeli lewat tender, dibocorkan datanya ke rekanan kenalannya, pas di tender ya pasti menang, walaupun harganya sudah di mark up gak karuan.
3. Nepotisme rekrutmen; project manager kang Adun, maka program officer, bagian administrasi pembelian hingga supir diisi oleh saudara2 Kang Adun, padahal ini organisasi internasional bukan perusahaan milik mbah buyutnya Kang Adun.
Alhasil, 2 tahun bekerja sbg project manager NGO's yg bergaji 10 juta sebulan, Kang Adun bisa memiliki tabungan (mendekati) jumlah Rp. 1 milyar, 2 mobil baru, rumah baru dan (mungkin) kawin lagi berkat korupsi budget. Tak itu saja Kang Adun jadi pahlawan keluarga dan memperoleh "Family Award" karena berhasil memberantas pengangguran dgn mempekerjakan 5 saudaranya di kantor dan menitipkan 10 saudara2 lainnya di perusahaan2/mitra organisasi. Kang Adun juga menjadi figur yg disegani kalangan pengusaha krn kerap memberikan proyek yg menjanjikan keuntungan di atas 100%.
Akhirnya praktek menyimpang kang Adun diketahui Head Quarter di Eropa sana, lalu internal audit datang memeriksa kang Adun, terbukti sah melanggar dan dipecat secara tidak hormat. Head Quarter tidak berani melaporkan kang Adun ke polisi krn bisa merusak citra NGO's tsb di Indonesia, worldwide, dan juga (terutama) donor.
Kantor NGO's tsb akhirnya hanya bisa memecat Kang Adun dan 5 saudaranya serta menyita mobil pribadinya, itu saja....
Pasca pemecatan Kang Adun dan keluarganya, NGO's tsb beroperasi secara "accountable and transparent", tapi sayangnya tak lebih dari 1 tahun. Memasuki tahun kedua, kisah "sukses" kang Adun di "copy paste" pegawai2 lainnya, mereka menduplikasi aksi mencuri hak fakir miskin, anak yatim-piatu, dan korban bencana demi keuntungan pribadi sambil melakukan tugas2 kemanusiaan.
Kang Adun merasa sakit hati dan takut?
Kang Adun hidup bahagia bersama uang hasil rampokannya yg bisa bernilai puluhan juta, ratusan juta atau bisa jadi mencapai nilai milyaran rupiah selama 2 tahun bekerja, berdiam di suatu tempat, mungkin dia lagi baca blog saya sekarang.. hehehe... apa kabar kang Adun? :)
Kang Adun merasa berdosa?
Boro2!, lalu visi, misi, cita2 luhur organisasi untuk memberantas kemiskinan serta korban bencana, bagaimana donk?. "Mereka kan sudah dapat haknya, dibantu & dikasih gratis kok protes" demikian agrumentasinya, gak takut dosa?, "itu urusan saya dengan Tuhan" sahut kang Adun lagi.
Kurang professionalnya local management dan lemahnya pengawasan, serta tidak adanya law enforcement membuat lakon ini terjadi di kantor2 NGO's international yg beroperasi di Indonesia. Bagaimana kita semua menyikapi hal ini?, terus terang kami yg berusaha bekerja sesuai tugas menjalankan amanah donor untuk membantu sesama, merasa miris melihat hal2 ini dipertontonkan di depan mata kami oleh sesama saudara sebangsa dan setanah air di hadapan orang2 asing yg mewakili donor...
Adakah NGO's watch di Indonesia?, kami mau laporan nih...
(di intisarikan dari diskusi hati nurani via japri antar pekerja NGO's)
Wassalam
Kang Deni
http://www.deni-ds.com






10 comments:
pertamaxx NGO's itu apa ya kang..aku nggak tauu??
NGO's = Non Government Organization, di Indonesia di kenal sbg LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), NGO's/LSM melakukan kegiatan2 sosial & kemanusiaan membantu pemerintah memberdayakan masyarakat miskin, menolong korban bencana alam (spt di Aceh, Padang & Jogja), advokasi hukum, perlindungan hak, dll.
Sumber dana LSM; donasi perorangan atau lembaga donor baik lokal atau asing. Pekerja NGO's/LSM bisa bersifat sukarelawan atau professional yg digaji.
Badan hukumnya yayasan jika lokal & memiliki kerjasama operasional dgn instansi pemerintah terkait, jika asing.
Penjelasan ini sesuai definisi yg saya pahami sbg pekerja NGO's, semoga membantu...
kunjungn pertamax mo kenalan duyu boleh bang
mas kayanya kalo masalah NGO itu kan urusan intern masing2 NGO
kalo misalnya di Indonesia ada NGO's watch apa kewenangannya ?
trus tindakan apa yang bisa diambil saat dia mengetahui adanya berbagai penyelewengan ?
Adakah dasar hukum yang bisa menjerat penyelewengan NGO's?
wew,, penghasilan nya sampe 10 juta gt per bulan,, kereennn..
keep share boss..
salam...
belajar dan berbagi
Ikutan berpendapat ah:
mas kayanya kalo masalah NGO itu kan urusan intern masing2 NGO >>>> sama donatur dan Tuhan
kalo misalnya di Indonesia ada NGO's watch apa kewenangannya ? >>>> bapake pemerintah punya urusan
trus tindakan apa yang bisa diambil saat dia mengetahui adanya berbagai penyelewengan ? >>>> dipenjarakan dan dibubarkan NGO/LSMnya biar kapok
Adakah dasar hukum yang bisa menjerat penyelewengan NGO's? >>>> KUHP kali yee?
wew,, penghasilan nya sampe 10 juta gt per bulan,, kereennn.. >>>> udah digaji gede kok tetep pd maling seh?
di kantor saya ada sebuah NGO asing. Ruangan di pinjemin. Mebeuleur dipinjemin hampir selurhnya. Jaringan internet di kasi (baru 2 minggu ini mereka pake internet sendiri setelah puas make internet kami selama 8 bulan lebih). Listrik gratis. Dan... pegawai asingnya kurang bersahabat dengan kami.
ampunnnn d
Aku cuma heran, apa NGO ini ga punya anggaran pengadaan barangkah?
anekdot yang berkembang di kantor saya adalah "rapat..rapat.. terus, tapi belanda masuk juga" ini mengikut kalimat NagaBonar.
Ehh...KPK dalam hal ini, nggak bisa utak-atik NGO'S ya?
Hehehe...wong sekarang aja yang diutak-atik cuma koruptor kelas teri...kekekek...
Sepertinya nggak ada yang ber-HAK untuk meng-audit NGO'S ya, mungkin karena ini lembaga sosial, kalau ketahuan kacau kan malu-maluin...
Sabar aja Mas Deni, enaknya lapornya ke Gusti Allah aja deh... biar DIA yang menghakimi dengan seadil-adilnya, dunia wal akhirat.
Salam Sukses Penuh Berkah dari Surabaya,
Wuryanano
Motivational Blog - Support Your Success
Entrepreneur Campus - Support Your Future
Saya kira bukan hanya dilakukan oleh program manager lokal saja, begitu juga yang dilakukan oleh petinggi-petinggi NGO tsb yang notabene juga bule. Jadi organisasi ini seperti tempat pelatihan KKN secara profesional. Coba kang deni kalau ditelusuri lagi petinggi-petinggi Bank Dunia, Bank Asia banyak sekali terlibat secara organisasi mereka adalah donatur tapi dibelakang layar secara pribadi adalah penikmat donasi tsb
Penjelesan yg menarik
thanks sharingnya
Post a Comment